
Ambon, Fakta64.com — Pemerintah Provinsi Maluku mulai memperkuat fondasi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan inklusif melalui peluncuran Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Program tersebut resmi diluncurkan di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Senin (13/7/2026), sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memberi ruang bagi pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai toleransi.
Peluncuran BSAN dihadiri perwakilan Rektor IAIN Ambon, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku bersama jajaran, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, serta sejumlah mitra pembangunan.
Sejumlah lembaga yang turut mendukung program tersebut antara lain Institut Leimena, Inovasi Maluku, dan Sasakawa Peace Foundation.
Dalam sambutan tertulis Gubernur Maluku yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Ir. Sadali Ie, M.Si., IPU, pemerintah menegaskan bahwa sekolah tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Sekolah, kata gubernur, harus mampu menjadi rumah kedua bagi anak, yakni ruang yang memberikan rasa aman, menumbuhkan harapan, sekaligus membentuk karakter peserta didik.
“Sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman, menumbuhkan harapan, dan membentuk karakter anak. Kita ingin budaya sekolah yang aman dan nyaman ini menjadi gerakan bersama, sehingga anak-anak kita merasa diterima, dihargai, dan dilindungi untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia,” demikian pesan Gubernur Maluku.
Program BSAN mengusung tema “Membangun Sekolah Berbudaya Aman, Nyaman, Inklusif, dan Berkelanjutan Melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya.”
Tema tersebut menjadi penegasan bahwa pembangunan pendidikan di Maluku diarahkan tidak semata-mata pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pada kemampuan peserta didik memahami dan menghargai keberagaman.
Pendekatan literasi keagamaan lintas budaya diharapkan dapat menjadi instrumen untuk menanamkan nilai toleransi, empati, saling menghormati, dialog, serta kemampuan hidup berdampingan secara damai sejak usia sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah didorong menjadi ruang yang mempertemukan keberagaman, bukan sekadar ruang transfer pengetahuan.
Lingkungan pendidikan juga diharapkan mampu menjadi tempat anak merasa diterima tanpa melihat latar belakang, sekaligus menjadi ruang pembentukan karakter dan penguatan persatuan di tengah masyarakat Maluku yang majemuk.
Pemprov Maluku menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Institut Leimena, Inovasi Maluku, Sasakawa Peace Foundation, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan dan pelaksanaan Program BSAN.
Ke depan, pemerintah daerah mendorong agar program tersebut tidak berhenti pada seremoni peluncuran. BSAN diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama dan diterapkan secara berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan di Maluku.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, serta mitra pembangunan dinilai menjadi kunci agar budaya sekolah yang aman, nyaman dan inklusif benar-benar hadir dalam keseharian peserta didik.
Melalui penguatan ekosistem tersebut, Pemprov Maluku menargetkan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, toleran, mampu menghargai perbedaan, dan memiliki kesiapan menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. (F64)
