
Ambon, Fakta64.com — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan penguatan keluarga dan peran gereja menjadi kunci penting dalam membentengi generasi muda dari ancaman sosial yang kian kompleks, mulai dari penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, judi online, kekerasan, hingga pengangguran.
Pesan tersebut disampaikan Lewerissa saat membuka Seminar Keluarga Gembala Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Maluku Tahun 2026 di Aula Gedung Balai Diklat Keagamaan Ambon, Waiheru, Selasa (27/10/2026).
Di hadapan para pemimpin gereja dan undangan yang hadir, Lewerissa menekankan bahwa tantangan pembangunan Maluku tidak cukup dijawab melalui kebijakan pemerintah semata. Penguatan karakter, ketahanan keluarga, dan pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan nyata keluarga, lembaga pendidikan, gereja, serta seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter. Karena itu, keteladanan seorang pemimpin gereja tidak boleh hanya terlihat saat berdiri di mimbar, tetapi harus tercermin dalam kehidupan rumah tangga dan interaksi sosial sehari-hari.
“Keteladanan iman harus dimulai dari dalam keluarga. Keluarga bukan sekadar pendamping pelayanan, tetapi merupakan bagian penting dari panggilan seorang hamba Tuhan,” tegasnya.
Keluarga Kuat Bukan Berarti Tanpa Masalah
Mengusung tema “Keluarga Gembala yang Diberkati, Kokoh, dan Menjadi Berkat”, seminar tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah tuntutan pelayanan dan dinamika kehidupan masyarakat.
Lewerissa mengingatkan bahwa keluarga yang kokoh bukanlah keluarga yang terbebas dari persoalan, melainkan keluarga yang mampu menghadapi setiap tantangan melalui kasih, iman, komunikasi yang sehat, dan kedewasaan dalam menyelesaikan masalah.
Ia pun mendorong para gembala agar tidak mengabaikan kehidupan keluarga di tengah besarnya tanggung jawab pelayanan. Keseimbangan antara pelayanan gereja dan perhatian terhadap keluarga dinilai penting agar keteladanan yang disampaikan kepada jemaat benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan ini sekaligus menempatkan keluarga sebagai ruang pertama pembentukan nilai, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial bagi generasi berikutnya.
Narkoba hingga Judi Online Jadi Tantangan Generasi Muda
Sorotan Gubernur tidak berhenti pada persoalan keluarga. Ia juga menyinggung berbagai ancaman yang membayangi generasi muda Maluku, termasuk pengangguran, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, judi online, kekerasan, serta dampak negatif perkembangan teknologi.
Menurut Lewerissa, persoalan tersebut membutuhkan pendekatan bersama, bukan sekadar imbauan atau tindakan sesaat. Keluarga harus diperkuat, pendidikan karakter ditingkatkan, ruang kegiatan positif diperluas, dan generasi muda diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan serta kemandirian.
Dalam konteks ini, gereja dinilai memiliki posisi strategis untuk ikut membangun kesadaran, memberikan pendampingan, dan menghadirkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak muda.
“Gereja dapat mengambil peran strategis bersama keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk membina karakter, melindungi generasi muda, serta menumbuhkan harapan bagi masa depan bersama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perlindungan generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau keluarga. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pembinaan karakter berjalan seiring dengan upaya memperluas peluang pendidikan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi.
Hidup Orang Basudara Harus Dibuktikan dengan Tindakan
Di tengah tantangan sosial tersebut, Lewerissa turut mengingatkan pentingnya menjaga nilai hidup orang basudara sebagai salah satu kekuatan utama masyarakat Maluku.
Baginya, persaudaraan tidak cukup berhenti sebagai semboyan atau pesan seremonial. Nilai itu harus hadir dalam tindakan nyata melalui kepedulian, sikap saling menghormati, serta komitmen bersama menjaga kerukunan dan mencegah konflik.
Ia menegaskan bahwa pembangunan perdamaian di Maluku membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, dalam memperkuat kerukunan, memberdayakan keluarga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam masyarakat yang memiliki keberagaman latar belakang, peran lembaga keagamaan dinilai penting untuk merawat ruang dialog dan memperkuat kepercayaan sosial. Karena itu, kemitraan gereja dan pemerintah perlu diarahkan pada kegiatan yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Lewerissa berharap hubungan kemitraan tersebut tidak berhenti pada pernyataan dukungan dan semangat kebersamaan, tetapi diterjemahkan menjadi program konkret sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak.
“Keluarga yang kokoh akan memperkuat pelayanan, pelayanan yang berdampak akan menguatkan masyarakat, dan masyarakat yang hidup dalam persaudaraan akan menjadi fondasi bagi Maluku yang maju, adil, dan sejahtera. Semua itu par Maluku pung bae,” ungkapnya.
Seminar Diharapkan Melahirkan Komitmen Nyata
Menutup sambutannya, Lewerissa berharap Seminar Keluarga Gembala GPdI Maluku Tahun 2026 menghasilkan gagasan dan komitmen nyata untuk memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kualitas pelayanan gereja, serta mendukung pembangunan masyarakat Maluku.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Majelis Pusat GPdI Pdt. Ferry Da Costa, Ketua TP-PKK Provinsi Maluku, Wali Kota Ambon, Ketua BPD GBI, Asisten Administrasi Umum Setda Maluku, Sekretaris Kota Ambon, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, serta pimpinan wilayah GPdI Maluku beserta jajaran.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pesan penguatan keluarga, perlindungan generasi muda, dan perdamaian tidak berhenti di ruang seminar, tetapi diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan dan kerja nyata yang dirasakan masyarakat. (Diskominfo Maluku)
