
Ambon, Fakta64.com — Bagi sebagian orang, sampah plastik hanyalah benda tak berguna yang harus segera disingkirkan. Namun, bagi Affan Laturua dan masyarakat Lahasuang, sampah justru menyimpan peluang untuk mengubah wajah kampung, menggerakkan ekonomi warga, sekaligus menjaga lingkungan.
Setiap hari, sampah kiriman dari Kota Ambon menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat di kawasan Lahasuang. Di tengah upaya mengembangkan kawasan wisata, tumpukan sampah menjadi tantangan tersendiri. Lingkungan yang seharusnya nyaman bagi pengunjung justru berhadapan dengan persoalan yang tak kunjung selesai.
Dari persoalan itulah sebuah gagasan mulai tumbuh, bagaimana mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat?
Bersama dukungan PT Pertamina melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), masyarakat mulai mengembangkan pembuatan ecobrick atau ekobrik, yakni pemanfaatan sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol untuk dijadikan bahan berbagai produk dan kebutuhan tertentu.
Bagi Affan, langkah tersebut bukan sekadar upaya membersihkan lingkungan. Lebih dari itu, ia melihat kesempatan untuk menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan persoalan sampah.
“Setiap hari kami mendapat sampah kiriman dari kota. Jadi, bagaimana caranya sampah ini bisa dimanfaatkan? Bersama Pertamina, kami kemudian mengolah sampah untuk dijadikan hiasan dan bagian dinding fasilitas futsal. Dari situ akhirnya berkembang menjadi pembuatan ekobrik,” ungkap Affan.
Ketika Sampah Menemukan Nilainya
Gagasan pengolahan sampah tersebut berawal dari kebutuhan untuk menata kawasan Lahasuang sebagai tempat wisata dan ruang bagi masyarakat menjalankan usaha, termasuk menyediakan tempat makan bagi para pengunjung.
Seiring berkembangnya aktivitas wisata, persoalan sampah semakin terasa. Sampah kiriman datang hampir setiap hari, sementara kebutuhan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan terus meningkat.
Situasi itu mendorong Affan bersama masyarakat mencari jalan keluar. Dukungan Pertamina kemudian membuka ruang bagi pengembangan ide pemanfaatan sampah menjadi ecobrik.
Masyarakat tidak hanya diajak mengumpulkan sampah, tetapi juga mendapatkan sosialisasi dan penyuluhan mengenai cara mengolahnya. Dari proses tersebut, warga kemudian membentuk kelompok-kelompok produksi yang melibatkan ibu-ibu hingga anak muda.
Kini, sekitar 10 kelompok ekobrik telah terbentuk. Keterlibatan berbagai kelompok usia menjadi bagian penting dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan pekerjaan bersama.
Namun, ada hal yang membuat gerakan ini semakin menarik. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai kini dapat menghasilkan uang.
Setiap botol ekobrik yang selesai dibuat dihargai Rp4.000. Pembelian tersebut dilakukan melalui dukungan program CSR Pertamina, sehingga masyarakat memiliki insentif ekonomi untuk terus mengolah sampah.
“Tujuannya bukan hanya mengatasi sampah, tetapi juga supaya ada nilai ekonomis bagi masyarakat. Jadi, sampah bisa dikurangi dan masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi,” kata Affan.
Skema sederhana itu menghadirkan hubungan baru antara lingkungan dan penghidupan warga. Sampah tidak lagi semata-mata menjadi beban, tetapi juga dapat menjadi bahan baku yang memiliki nilai ketika dikelola dengan tepat.
Bagi masyarakat, setiap botol ekobrik yang dihasilkan bukan hanya bagian dari upaya mengurangi pencemaran. Di dalamnya terdapat tenaga, keterampilan, dan kesempatan untuk memperoleh tambahan pendapatan.
Pertamina dan Perubahan Wajah Lahasuang
Dukungan Pertamina terhadap pengembangan Lahasuang mulai diperkuat sekitar Agustus hingga September 2025.
Menurut Affan, kerja sama melalui program CSR tidak hanya berkaitan dengan pengolahan sampah, tetapi juga menyentuh kebutuhan infrastruktur dan fasilitas pendukung kawasan.
Bagi warga, dukungan tersebut dirasakan melalui perubahan penataan kawasan wisata yang semakin berkembang.
Salah satu persoalan yang sebelumnya dihadapi pengunjung adalah terbatasnya tempat makan. Ketika jumlah pengunjung meningkat, sebagian orang bahkan harus berdiri sambil menunggu tempat untuk menikmati makanan.
Kini, kondisi itu mulai berubah seiring bertambahnya tempat makan yang dibangun masyarakat dengan dukungan yang diterima.
“Dulu orang mau makan saja susah, sampai berdiri-berdiri karena tempatnya terbatas. Sekarang sudah mulai banyak tempat makan yang dibangun. Kawasan Lahasuang juga semakin tertata,” tutur Affan.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kawasan wisata tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan besar. Penataan lingkungan, penyediaan fasilitas sederhana, serta keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses membangun destinasi yang lebih nyaman.
Bagi Lahasuang, tempat makan bukan sekadar fasilitas bagi wisatawan. Keberadaannya juga membuka ruang usaha bagi masyarakat lokal, memperluas peluang pendapatan, dan memperkuat hubungan antara aktivitas pariwisata dengan perekonomian warga.
Ketika pengunjung datang dan berbelanja, manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada pengalaman berwisata, tetapi turut mengalir kepada masyarakat yang menyediakan berbagai kebutuhan mereka.
Dari Ekobrik Menuju Pendidikan Lingkungan
Di balik gerakan pengolahan sampah tersebut, Affan menyimpan gagasan lain yang ingin diwujudkan: membayar biaya pendidikan melalui ekobrik.
Ide itu berangkat dari keinginan memperluas manfaat pengelolaan sampah agar tidak hanya dirasakan oleh kelompok pembuat ekobrik, tetapi juga oleh anak-anak sekolah dan keluarga mereka.
Dalam konsep yang dibayangkannya, siswa dapat mengumpulkan sampah plastik, mengolahnya menjadi ekobrik, kemudian menyetorkannya melalui wali kelas. Ekobrik yang terkumpul selanjutnya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).
Bahkan, Affan membayangkan apabila hasil pengumpulan tersebut melebihi kebutuhan pembayaran, sebagian nilainya dapat membantu kebutuhan lain siswa, termasuk uang jajan.
“Misalnya, anak-anak membuat ekobrik lalu menyetorkannya melalui wali kelas. Setiap bulan dikumpulkan untuk membantu pembayaran SPP. Kalau ada kelebihan, bisa dimanfaatkan untuk uang jajan mereka,” ujarnya.
Gagasan itu memang belum terlaksana. Namun, konsep tersebut menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan pendidikan dan kesejahteraan keluarga.
Jika kelak dapat diwujudkan melalui mekanisme yang jelas dan kerja sama dengan sekolah, program tersebut berpotensi menjadi sarana pendidikan lingkungan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Anak-anak tidak hanya belajar mengenai bahaya sampah plastik, tetapi juga memahami pentingnya memilah sampah, mengolah bahan bekas, bekerja sama, serta mengenali nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Di sisi lain, keterlibatan sekolah dan keluarga dapat membantu menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini.
Bagi Affan, harapan besarnya sederhana: sampah berkurang, masyarakat mendapatkan manfaat, dan generasi muda ikut mengambil bagian dalam perubahan.
Ekowisata yang Bertumpu pada Kepedulian
Upaya mengembangkan Lahasuang tidak berhenti pada ekobrik dan penataan tempat makan. Affan juga menyebut adanya program CSR Pertamina yang berkaitan dengan pemasangan panel surya untuk mendukung kegiatan penanaman terumbu karang. Program tersebut, menurutnya, masih dalam tahap persiapan.
Rencana itu menjadi bagian dari harapan untuk mengembangkan kawasan wisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik kunjungan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Ekowisata pada dasarnya menuntut keseimbangan. Keindahan alam perlu dijaga, fasilitas pengunjung perlu ditata, dan masyarakat lokal harus memperoleh kesempatan untuk merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata.
Dalam konteks Lahasuang, pengolahan sampah menjadi ekobrik menjadi salah satu langkah untuk membangun keseimbangan tersebut. Sampah yang sebelumnya menjadi persoalan dicoba untuk diubah menjadi sumber daya, sementara kegiatan ekonomi masyarakat terus dikembangkan melalui usaha yang mendukung kebutuhan pengunjung.
Tantangan tentu masih ada. Pengelolaan sampah membutuhkan konsistensi, pemasaran produk membutuhkan keberlanjutan, dan pengembangan wisata memerlukan perawatan fasilitas serta partisipasi masyarakat.
Karena itu, keberhasilan gerakan ini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ekobrik yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mempertahankan kebiasaan mengelola sampah dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Dukungan berbagai pihak, termasuk Pertamina melalui program CSR, menjadi salah satu unsur yang dapat membantu masyarakat memperkuat langkah tersebut.
Mengundang Daerah Lain Menikmati Lahasuang
Bagi Affan, tujuan akhir dari seluruh upaya itu adalah menjadikan Lahasuang sebagai tempat yang semakin dikenal dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya.
Ia berharap warga Kota Ambon dan pengunjung dari berbagai daerah bersedia datang menikmati kawasan wisata tersebut, merasakan suasananya, serta menggunakan fasilitas dan layanan yang disediakan masyarakat setempat.
“Kami menghadirkan tempat wisata di Lahasuang agar warga Kota Ambon bisa datang dan menikmati apa yang kami sajikan. Dengan semakin banyaknya kunjungan dari berbagai daerah, kami berharap perekonomian masyarakat di sini semakin kuat,” tuturnya.
Harapan itu mencerminkan keyakinan bahwa pariwisata dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi lokal apabila masyarakat ditempatkan sebagai bagian utama dari pengembangannya.
Lahasuang mungkin masih terus berbenah. Berbagai gagasan juga masih membutuhkan proses, dukungan, dan kerja sama agar dapat diwujudkan. Namun, dari sampah kiriman yang setiap hari datang, masyarakat telah menemukan satu pelajaran penting: persoalan lingkungan dapat menjadi titik awal lahirnya kreativitas.
Melalui sekitar 10 kelompok ekobrik, keterlibatan ibu-ibu dan anak muda, serta gagasan menghubungkan sampah dengan pendidikan, Affan Laturua bersama masyarakat berupaya membangun perubahan dari hal-hal sederhana.
Sebab, kampung wisata yang berkembang bukan hanya tentang tempat yang indah untuk dikunjungi. Ia juga tentang masyarakat yang berdaya, lingkungan yang terjaga, dan peluang ekonomi yang tumbuh bersama.
Di Lahasuang, perubahan itu sedang diupayakan—satu botol ekobrik, satu kelompok masyarakat, dan satu gagasan untuk masa depan yang lebih baik. (F64)
