
AMBON, Fakta64.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi beban berat bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia. Di tengah melonjaknya biaya operasional, para driver mengaku pendapatan mereka justru semakin tergerus akibat potongan komisi aplikasi yang dinilai masih tinggi dan belum sebanding dengan kondisi ekonomi yang mereka hadapi.
Bagi pengemudi ojol, BBM bukan sekadar kebutuhan pendukung, melainkan faktor utama yang menentukan keberlangsungan pekerjaan mereka sehari-hari. Setiap kenaikan harga BBM secara langsung meningkatkan biaya operasional, sementara tarif layanan yang diterima pengemudi dinilai belum mengalami penyesuaian signifikan.
“Kami yang menanggung kenaikan BBM, biaya perawatan kendaraan, sampai risiko di jalan. Tapi potongan aplikasi tetap besar. Yang tersisa untuk keluarga semakin sedikit,” ujar Murni saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (10/6/2026).
Dijelaskan, para pengemudi hingga kini belum merasakan realisasi janji pemerintah terkait pemotongan komisi aplikasi menjadi 8 persen.
Menurutnya, potongan yang diterapkan perusahaan aplikasi masih tergolong tinggi, sementara tarif layanan yang diterima pengemudi tidak mengalami perubahan signifikan.
“Presiden pernah menjanjikan potongan komisi hanya 8 persen, tetapi sampai sekarang kami belum merasakan itu. Komisi masih tinggi, sementara tarif tetap begitu-begitu saja. Akhirnya yang dirugikan tetap driver,” tegasnya.
Lebih lanjut, dikatakan, persoalan tersebut bukan hal baru. Para pengemudi telah lama menghadapi tarif yang relatif stagnan dalam beberapa tahun terakhir, sementara harga berbagai kebutuhan pokok, termasuk BBM, terus mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut, ia menambahkan, membuat tekanan ekonomi yang dirasakan para driver semakin berat. Situasi menjadi lebih sulit ketika jumlah orderan tidak menentu dan cenderung menurun pada hari-hari tertentu.
“Kalau orderan sepi, kami harus bekerja lebih lama untuk mendapatkan penghasilan yang sama seperti dulu. Biaya bertambah, tapi pendapatan tidak ikut naik,” jelasnya.
Dirinya, mengaku, kini harus menghabiskan waktu lebih dari delapan jam di jalan setiap hari hanya untuk menutupi biaya operasional kendaraan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ia, berharap, ada evaluasi terhadap sistem potongan aplikasi serta penyesuaian tarif yang lebih berpihak kepada mitra pengemudi di tengah meningkatnya biaya hidup.
Kenaikan BBM yang berulang tanpa diimbangi peningkatan kesejahteraan driver dinilai berpotensi memperburuk kondisi ekonomi para pekerja sektor transportasi digital. Jika tidak ada langkah konkret dari pihak terkait, beban yang ditanggung pengemudi diperkirakan akan terus bertambah di tengah ketidakpastian pendapatan harian. (F64)
