
Tanimbar, Fakta64.com – Harapan masyarakat Maluku, khususnya warga Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), untuk menyambut langsung kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto pada peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Abadi LNG Blok Masela akhirnya tidak terwujud.
Presiden Prabowo dipastikan batal menghadiri seremoni yang berlangsung di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kamis (16/7/2026).
Kehadiran Kepala Negara digantikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, sementara Presiden hanya menyapa masyarakat dan peserta acara melalui sambungan video conference.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab batalnya kehadiran Presiden. Padahal, seluruh persiapan penyambutan orang nomor satu di Indonesia tersebut telah rampung dilakukan sejak beberapa hari terakhir.
Pemerintah Provinsi Maluku juga belum memberikan keterangan resmi terkait perubahan agenda mendadak itu.
Sebelumnya, Presiden Prabowo dijadwalkan memimpin langsung peletakan batu pertama Proyek Abadi LNG Blok Masela, salah satu proyek energi terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai 20–22 miliar dolar AS atau sekitar Rp300–330 triliun. Proyek tersebut diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong hilirisasi gas.
Blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah melalui perjalanan panjang sejak lapangan gas tersebut ditemukan pada tahun 2000. Setelah mengalami sejumlah perubahan skema pengembangan, proyek kini memasuki fase konstruksi.
Saat ini proyek dioperasikan oleh INPEX Masela Ltd. dengan kepemilikan participating interest sebesar 65 persen, bersama PT Pertamina Hulu Energi (20 persen) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15 persen).
Lapangan Gas Abadi di Blok Masela diperkirakan memiliki cadangan sekitar 3,06 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 119 juta barel kondensat.
Dalam rencana pengembangannya, proyek akan menggunakan skema Floating LNG (FLNG) yang terintegrasi dengan fasilitas produksi lepas pantai. Produksi diproyeksikan mencapai 10,5 juta ton LNG per tahun (MMTPA) serta memasok sekitar 1,5 miliar kaki kubik gas per hari (BCFD) untuk kebutuhan domestik.
Pemerintah menargetkan produksi perdana (first gas) dapat dimulai pada 2029–2030.
Selain memperkuat posisi Indonesia di sektor energi global, proyek raksasa tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja serta memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara melalui ekspor gas alam dan LNG di tengah transisi energi global. (F64)
