
Ambon, Fakta64.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku memperkuat literasi dan inklusi keuangan generasi muda melalui Kick Off Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang dirangkaikan dengan Sekolah Pasar Modal Level 1 dan 2 bagi mahasiswa.
Kegiatan hasil kolaborasi OJK Maluku, Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Maluku, dan Phillip Sekuritas Indonesia Cabang Ambon itu diikuti 190 mahasiswa dari Universitas Pattimura, Universitas Kristen Indonesia Maluku, dan Universitas Islam Negeri Ambon.
Mengusung tema “Secure a Better Future: Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal Indonesia, Melek Regulasi, dan Bebas Finansial”, kegiatan ini menekankan pentingnya pemahaman investasi, pengenalan risiko, serta kewaspadaan terhadap investasi ilegal dan penipuan keuangan.
Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, mengatakan literasi keuangan harus berjalan seiring dengan perluasan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen. Di Maluku, indeks literasi keuangan tercatat 63,87 persen dan inklusi keuangan mencapai 87,59 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan akses layanan keuangan perlu diimbangi kemampuan masyarakat memahami manfaat, risiko, serta cara menggunakan produk keuangan secara tepat.
“Masyarakat perlu memahami dan mampu menggunakan produk keuangan secara tepat agar mengambil keputusan keuangan secara lebih mandiri dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan,” kata Haramain dalam keterangan tertulis yang diterima media ini.
Menurutnya, edukasi investasi sejak bangku kuliah penting untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan keuangan yang sehat. Keputusan investasi, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi harus mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan legalitas instrumen yang dipilih.
Sekolah Pasar Modal tersebut juga menjadi bagian dari kampanye World Investor Week (WIW) yang berlangsung pada 5–11 Oktober 2026. Materi yang diberikan meliputi pengelolaan keuangan, pengenalan instrumen pasar modal, karakteristik dan risiko investasi, perlindungan data pribadi, serta kewaspadaan terhadap entitas keuangan ilegal.
OJK Maluku berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penerima edukasi, tetapi juga mampu meneruskan pengetahuan tersebut kepada keluarga, teman sebaya, dan masyarakat luas.
Haramain menegaskan, penguatan literasi dan inklusi keuangan membutuhkan sinergi berkelanjutan antara regulator, industri jasa keuangan, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Melalui BIK 2026, OJK Maluku mendorong generasi muda agar lebih kritis dalam memilih instrumen investasi, memahami risiko, dan mengambil keputusan keuangan secara bijak serta bertanggung jawab. (F64)
