
Ambon, Fakta64.com — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mencanangkan Festival Marawai I Event Budaya Tahun 2026 bertajuk “Harmoni Nada Cinta Par Negeri” di Puncak Marawai, Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Selasa (25/8/2026).
Festival ini tidak sekadar menjadi panggung seni dan tradisi, tetapi juga diarahkan sebagai penggerak kreativitas generasi muda, pengembangan pariwisata, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Dalam sambutannya, Lewerissa menegaskan bahwa Festival Marawai harus menjadi ruang untuk merawat persaudaraan dan memperkuat identitas masyarakat Maluku, bukan hanya kegiatan hiburan atau seremoni tahunan.
“Festival Marawai bukan sekadar ajang seni dan hiburan. Festival ini adalah ruang untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian yang sudah menjadi jati diri masyarakat Maluku,” tegas Lewerissa.
Menurut Lewerissa, kekayaan budaya Maluku berupa tradisi, bahasa, musik, tarian, kuliner, kerajinan, hingga berbagai kearifan lokal merupakan modal penting bagi pembangunan daerah.
Warisan tersebut harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak tergerus perubahan zaman.
“Kekayaan budaya dan kearifan lokal tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu. Ia harus terus hidup, bertumbuh, dan diwariskan kepada anak cucu kita,” ungkap Lewerissa.
Lewerissa juga menyoroti potensi festival budaya dalam mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan, kegiatan seperti Festival Marawai dapat membuka peluang pemasaran bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kuliner lokal, serta kerajinan, sekaligus memperluas ruang bagi seniman dan komunitas kreatif.
Karena itu, ia meminta Festival Marawai tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan dikembangkan secara kreatif, inklusif, dan berkesinambungan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Festival ini harus menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat. Budaya tidak hanya dijaga sebagai warisan masa lalu, tetapi juga harus mampu menjadi kekuatan pembangunan masa depan,” tutur Lewerissa.
Gubernur turut mendorong keterlibatan aktif generasi muda, perempuan, pelaku UMKM, seniman, dan komunitas kreatif dalam setiap penyelenggaraan festival. Pemerintah Provinsi Maluku, lanjutnya, mendukung berbagai inisiatif yang memperkuat kebudayaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menilai tema “Harmoni Nada Cinta Par Negeri” mengandung pesan penting tentang seni dan budaya sebagai perekat persaudaraan serta penumbuh kecintaan terhadap daerah.
Lewerissa berharap Festival Marawai mampu memperluas promosi budaya Maluku, membuka ruang kreativitas, dan memperkuat daya tarik pariwisata daerah.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan nilai-nilai gotong royong, pela gandong, dan falsafah Ale Rasa Beta Rasa sebagai landasan membangun Maluku yang lebih baik.
“Mari kita jadikan nilai-nilai luhur kita, budaya gotong royong, semangat pela gandong, dan falsafah Ale Rasa Beta Rasa sebagai kekuatan utama untuk membangun Par Maluku Pung Bae,” ajak Lewerissa.
Festival Marawai I Event Budaya Tahun 2026 kemudian secara resmi dicanangkan dan dibuka oleh Gubernur Hendrik Lewerissa.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Ambon, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon, Sekretaris Daerah Kota Ambon, Ketua Klasis Ambon Timur, Ketua Majelis Jemaat GPM Hatalai, perwakilan Bank Maluku-Malut, unsur Forkopimcam Leitimur Selatan, Pemerintah Negeri Hatalai, para raja se-Kecamatan Leitimur Selatan, Raja Amahusu, serta gandong Amahusu. (F64)
