
Ambon, Fakta64.com — Provinsi Maluku mencatat deflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan Februari 2026 yang mengalami inflasi sebesar 0,58 persen (mtm).
Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dhita Aditya Nugraha, menegaskan bahwa sinergi kebijakan akan terus dijaga sepanjang 2026 guna memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Deflasi tersebut terutama bersumber dari Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon. Kedua wilayah tersebut masing-masing mencatat deflasi sebesar 1,40 persen (mtm) dan 0,43 persen (mtm),” katanya dalam rilis resmi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku, Rabu, (01/04/2026).
Lebih lanjut, dikatakan, sementara itu, Kota Tual justru mengalami inflasi sebesar 0,37 persen (mtm), sehingga menahan penurunan yang lebih dalam.
“Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Maluku tercatat sebesar 3,40 persen. Angka ini masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, serta lebih rendah dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang mencapai 5,97 persen (yoy),” ungkapnya.
Menurutnya, Inflasi Maluku juga sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,48 persen (yoy).
Penurunan harga pada Maret 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dijelaskan, Kelompok pertama memberikan andil deflasi sebesar 0,73 persen, sedangkan kelompok kedua sebesar 0,03 persen.
Komoditas perikanan menjadi penyumbang utama deflasi, khususnya penurunan harga ikan layang, ikan selar, ikan tongkol, dan ikan cakalang.
“Masing-masing komoditas tersebut menyumbang deflasi sebesar 0,36 persen, 0,23 persen, 0,16 persen, dan 0,12 persen.
Penurunan harga ikan dipengaruhi oleh kondisi cuaca laut yang relatif kondusif sehingga meningkatkan hasil tangkapan nelayan,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, intervensi pemerintah dalam menjaga pasokan ikan serta pelaksanaan operasi pasar melalui penjualan ikan beku dengan harga lebih murah turut memperkuat tren penurunan harga.
“Di sisi lain, deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga emas di pasar global yang berdampak pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujarnya.
Dia menambahkan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui berbagai program strategis, termasuk Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
“Upaya ini mengacu pada penguatan empat pilar utama pengendalian inflasi, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Ke depan, TPID akan terus mendorong kerja sama antar daerah untuk menjamin pasokan pangan, memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), serta meningkatkan pemantauan stok dan harga kebutuhan pokok,” tuturnya.
Selain itu, koordinasi lintas pemangku kepentingan dan penyampaian informasi kepada masyarakat juga akan diperkuat guna menjaga ekspektasi inflasi tetap stabil. (F64)
