
Tanimbar, Fakta64.com – Pemerintah memastikan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Blok Masela tidak lagi berjalan dengan pola bertahap.
Usai peletakan batu pertama (groundbreaking) di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (16/7/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan seluruh infrastruktur utama akan dikerjakan secara paralel untuk mengejar ketertinggalan proyek yang sempat mandek hampir tiga dekade.
Menurut Bahlil, percepatan ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan Blok Masela sebagai salah satu proyek energi strategis nasional yang harus segera direalisasikan setelah bertahun-tahun hanya berada di tahap perencanaan.
“Proyek ini sudah tertunda sejak 1998. Hari ini, berkat arahan Presiden dan sinergi seluruh pihak, Proyek Abadi Masela berhasil mencapai tonggak penting,” kata Bahlil saat memberikan sambutan pada seremoni groundbreaking.
Ia mengungkapkan, tahap awal konstruksi telah dimulai melalui proses tender pembangunan pagar kawasan dan akses jalan menuju lokasi proyek. Setelah itu, pembangunan fasilitas utama akan dilakukan secara bersamaan tanpa menunggu satu pekerjaan selesai lebih dulu.
“Begitu sudah groundbreaking, tahap pertama tendernya sudah jalan untuk melakukan lingkar pagar dan jalan,” ujarnya.
Bahlil menjelaskan, skema pengerjaan paralel mencakup pembangunan fasilitas penyimpanan (storage), pelabuhan logistik, kawasan pendukung operasional, hingga pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer yang akan menghubungkan fasilitas produksi.
“Sambil itu melakukan paralel dengan membangun storage, pelabuhan, dan kawasan-kawasan pendukung lainnya, termasuk untuk membangun pipa kurang lebih sekitar 180 kilometer di tengah laut,” jelasnya.
Ia mengakui pembangunan jaringan pipa bawah laut menjadi tantangan terbesar karena akan dipasang pada kedalaman sekitar 1.000 meter di bawah permukaan laut, sehingga membutuhkan teknologi tinggi dan koordinasi lintas sektor.
“Ini bukan sesuatu yang gampang, ini sesuatu yang berat. Tapi dengan motivasi, kerja sama, dan dukungan dari semua pihak, khususnya tokoh masyarakat dan tokoh agama, inilah yang sangat kita butuhkan agar proyek ini bisa kita wujudkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bahlil memastikan pemerintah tidak hanya fokus pada percepatan investasi, tetapi juga menjamin hak-hak masyarakat yang terdampak proyek.
Ia menegaskan penyelesaian lahan akan mengedepankan prinsip ganti untung, bukan sekadar ganti rugi. Kebijakan tersebut telah dibahas bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, SKK Migas, dan Inpex.
“Tanah yang dipakai memang berada di kawasan hutan, tetapi masyarakat sudah mengelolanya secara turun-temurun. Karena itu saya mengambil kebijakan agar masyarakat diberikan ganti untung. Nanti akan kami laporkan dan meminta arahan Bapak Presiden,” tegasnya.
Bahlil menambahkan, investasi besar seperti LNG Abadi Blok Masela harus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal melalui peningkatan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi daerah.
“Investasi itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi memberikan kontribusi terbaik bagi kesejahteraan masyarakat di daerah tempat investasi berlangsung,” imbuhnya.
Proyek LNG Abadi Blok Masela memiliki nilai investasi sekitar US$20,95 miliar atau hampir Rp390 triliun. Pemerintah optimistis percepatan konstruksi akan membawa proyek tersebut segera memasuki fase pembangunan penuh, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong hilirisasi industri berbasis gas, dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, khususnya Provinsi Maluku. (F64)
