
Ambon, Fakta64.com – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menggelar kegiatan OJK Maluku Ba’STORI. Yang mengusung tema, “Edukasi Keuangan Syariah dan Update Kinerja Sektor Jasa Keuangan di Maluku”.
Kegiatan ini, dirangkai dengan silaturahmi serta buka puasa bersama insan media di Cafe Red Brick, Ambon, Rabu (11/3/2026). Dan dipandu oleh moderator Herlis Mercy Souhuken, S.Pi.
Kepala Kantor OJK Provinsi Maluku Andi Muhammad Yusuf, yang menjadi narasumber utama dalam kegiatan ini, mengatakan dalam pemaparannya, sektor jasa keuangan di Maluku tetap menunjukkan kinerja positif sepanjang tahun 2025 meski menghadapi berbagai tantangan.
“Alhamdulillah kita melewati akhir tahun 2025 dengan capaian yang cukup baik, walaupun tantangan juga cukup banyak. Pada kesempatan ini kami mencoba meng-update posisi industri jasa keuangan di Maluku,” ucapnya.
Menurutnya, sektor jasa keuangan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional, terutama dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen dalam beberapa tahun ke depan.
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Maluku pada tahun 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,56 persen. Angka tersebut sedikit berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai sekitar 5,1 persen,” ungkapnya.
Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi Maluku masih ditopang oleh sejumlah sektor utama seperti pertanian, perikanan, perkebunan, administrasi pemerintahan, serta perdagangan.
Ia menambahkan, perlambatan ekonomi di daerah antara lain dipengaruhi oleh menurunnya alokasi belanja pemerintah daerah melalui APBD serta dominasi sektor hulu berbasis sumber daya alam dalam struktur ekonomi Maluku.
“Ekonomi kita masih banyak ditopang sektor perikanan dan pengeluaran pemerintah. Namun secara umum pertumbuhan masih cukup baik,” ujarnya.
Di sektor jasa keuangan, kata dia, khususnya perbankan, OJK mencatat penyaluran kredit di Maluku masih tumbuh hampir 5 persen. Selain itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) serta total aset perbankan juga mengalami peningkatan.
Sementara itu, tingkat risiko kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga pada level 2,92 persen yang dinilai relatif rendah.
Dia menambahkan, salah satu pendorong pertumbuhan kredit di Maluku adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp1 triliun dengan jumlah debitur hampir 21.840 orang.
“Penyaluran KUR tahun lalu mencapai sekitar Rp1 triliun dengan jumlah debitur hampir 21.840 debitur. Ini yang terus kita dorong karena menyasar pelaku usaha mikro dan kecil,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, OJK juga memperkenalkan program Gerak Syariah (Gebyar Ramadan Keuangan Syariah) yang dilaksanakan sepanjang bulan Ramadan sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat.
Program ini merupakan kolaborasi antara OJK, industri jasa keuangan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui berbagai kegiatan bersama industri jasa keuangan,” tuturnya.
Ia menegaskan, sektor jasa keuangan akan terus didorong untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif, khususnya bagi pelaku UMKM serta sektor-sektor strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi di Maluku.
Kepala Kantor OJK Provinsi Maluku Andi Muhammad Yusuf menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut. Dan hadir pula sejumlah narasumber lain, yakni Kepala Sub Bagian Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen serta Layanan Manajemen Strategi OJK Maluku Novian Suhardi, perwakilan Bank Syariah Indonesia Cabang Ambon Amrin Budiman, serta perwakilan Pegadaian Syariah Cabang Ambon Aris Kurniadi. (F64)
