
SBB, Fakta64.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sedikitnya tiga titik kebakaran lahan terpantau di sejumlah wilayah pada Rabu (2/9/2026), dengan total luasan lahan terdampak mencapai sekitar 13 hektare.
Merespons kondisi tersebut, Tim Tanggap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polres Seram Bagian Barat terus meningkatkan pemantauan serta penanganan di wilayah-wilayah yang dinilai rawan terjadinya kebakaran.
Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP Andi Zulkifli, S.I.K., M.M., mengatakan, untuk mempercepat respons terhadap setiap potensi kebakaran, Tim Tanggap Karhutla Polres SBB dibagi ke dalam tiga zona dengan total sembilan tim yang bertugas melakukan monitoring secara intensif.
“Pembagian personel ke dalam tiga zona dan sembilan tim ini merupakan langkah untuk mempercepat pemantauan dan penanganan Karhutla di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat. Setiap tim bertanggung jawab melakukan monitoring terhadap kondisi wilayahnya dan segera mengambil tindakan apabila ditemukan adanya titik api,” kata Kapolres.
Zona I mencakup wilayah Kecamatan Kairatu, Kairatu Timur dan Kairatu Barat. Sementara Zona II meliputi Kecamatan Seram Barat, Huamual dan Huamual Belakang.
Adapun Zona III mencakup wilayah Kecamatan Taniwel, Taniwel Timur serta Kepulauan Manipa.
Berdasarkan hasil pemantauan Tim Tanggap Karhutla pada Rabu (2/9/2026), tiga titik kebakaran ditemukan di wilayah Zona I dan Zona II.
Titik pertama berada di kawasan Dusun Tanah Misi, Desa Piru, Kecamatan Seram Barat. Kebakaran lahan di lokasi tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar dua hektare lahan.
Personel Satuan Samapta Polres Seram Bagian Barat langsung dikerahkan ke lokasi dan melakukan pemadaman menggunakan satu unit mobil Armoured Water Cannon (AWC).
Sementara titik kebakaran kedua ditemukan di kawasan Kali Pasa, Dusun Resetlement Pulau Osi, Desa Eti, Kecamatan Seram Barat. Kebakaran di lokasi ini menjadi perhatian serius karena diperkirakan telah membakar sekitar 10 hektare lahan.
Namun, upaya pemadaman belum dapat dilakukan secara maksimal lantaran lokasi kebakaran sulit dijangkau kendaraan pemadam maupun mobil AWC akibat tidak tersedianya akses jalan menuju titik api.
Sedangkan titik kebakaran ketiga berada di kawasan Dusun Kawanenu, Desa Waisamu, Kecamatan Kairatu Barat, dengan luas lahan yang terbakar kurang lebih satu hektare.
Berbeda dengan dua lokasi lainnya, kebakaran di Dusun Kawanenu berhasil dipadamkan secara manual oleh personel Polsek bersama masyarakat setempat.
Kapolres menegaskan, penanganan Karhutla tidak hanya bergantung pada ketersediaan kendaraan dan peralatan pemadam. Kecepatan respons personel di lapangan serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting, terutama ketika titik api berada di wilayah yang sulit dijangkau.
“Kami terus melakukan monitoring melalui Tim Tanggap Karhutla yang telah dibagi dalam tiga zona. Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api,” tegas Kapolres.
AKBP Andi Zulkifli juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kondisi vegetasi yang kering dapat membuat api dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan.
Masyarakat juga diminta tidak meninggalkan api yang digunakan untuk keperluan tertentu sebelum memastikan api tersebut benar-benar padam.
Polres Seram Bagian Barat memastikan pemantauan Karhutla akan terus dilakukan secara berkelanjutan melalui sembilan tim yang telah disiagakan di sejumlah wilayah.
Selain melakukan pengawasan, Tim Tanggap Karhutla juga akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait serta masyarakat guna memperkuat langkah pencegahan dan mempercepat penanganan apabila kembali ditemukan titik kebakaran di wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat. (F64)
