
Ambon, Fakta64.com — Pemerintah Kota Ambon terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan sejak usia dini.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengajak para pelajar membangun kebiasaan menabung melalui langkah sederhana dengan menyisihkan sebagian uang jajan yang diberikan orang tua.
Pesan itu disampaikan Wattimena saat menghadiri kegiatan CIMB Niaga Goes to School yang digelar di Kota Ambon, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, membangun budaya menabung tidak harus dimulai dengan nominal besar. Yang paling penting adalah konsistensi dan kesadaran untuk menyisihkan uang sejak dini.
“Kalau orang tua kasih uang jajan Rp10 ribu, tidak usah banyak-banyak, anak-anak bisa menabung Rp. 2 ribu saja. Itu sudah luar biasa. Kalau dilakukan setiap hari secara rutin, mereka akan terbiasa menabung,” kata Wattimena.
Ia menegaskan, nilai utama dari kebiasaan menabung bukan semata-mata pada besarnya uang yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, menabung menjadi proses pendidikan karakter bagi anak-anak untuk belajar disiplin, hemat dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan.
“Menabung mengajarkan kita untuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kebiasaan ini harus ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Wattimena menilai, literasi keuangan bagi pelajar menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman dan meningkatnya aktivitas ekonomi serta transaksi digital.
Generasi muda, kata dia, harus dibekali kemampuan mengelola keuangan agar mampu mempersiapkan kebutuhan masa depan, termasuk pendidikan.
Untuk itu, Pemkot Ambon terus membangun kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku dan sektor perbankan dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan, khususnya bagi kalangan pelajar.
Dijelaskan, salah satu program yang terus didorong adalah Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Program tersebut diharapkan mampu menjangkau peserta didik sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
“Melalui kegiatan CIMB Niaga Goes to School, pembukaan rekening juga dilakukan bagi siswa SD Negeri 4 dan SD Negeri 65 Ambon,” ungkapnya.
Wattimena berharap rekening yang dimiliki para siswa tidak sekadar menjadi bukti kepemilikan layanan perbankan, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk membangun budaya menabung secara berkelanjutan.
“Jangan sampai rekeningnya ada, tetapi tidak digunakan untuk menabung. Yang kita bangun adalah kebiasaan. Sedikit demi sedikit, tetapi dilakukan terus-menerus,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Wattimena juga menyampaikan apresiasi atas capaian Kota Ambon yang berhasil meraih Juara I Inklusi Keuangan Nasional, setelah bersaing dengan sejumlah kota besar lainnya, termasuk Bandung dan Cirebon.
Menurutnya, prestasi tersebut tidak boleh membuat semua pihak cepat berpuas diri. Sebaliknya, capaian itu harus menjadi dorongan untuk terus memperluas literasi dan inklusi keuangan hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Kalau anak-anak sejak sekarang sudah belajar hemat dan menabung, mereka sedang menyiapkan masa depannya sendiri,” tuturnya.
Wali Kota pun menutup sambutannya dengan mengingatkan para pelajar agar menjadikan kebiasaan hemat dan menabung sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Ini yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini,” pungkasnya. (F64)
