
Ambon, Fakta64.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan digital di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih memahami risiko investasi pada aset digital dan kripto secara aman, rasional, dan bertanggung jawab. Upaya tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) di Aula Rektorat Universitas Pattimura, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, pesatnya perkembangan aset kripto harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai, mengingat masih banyak masyarakat yang terjebak dalam investasi ilegal, penipuan digital, hingga kehilangan aset akibat rendahnya kesadaran keamanan digital.
“Perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai,” ucapnya dalam rilis yang diterima media ini, kemarin.
Ia menjelaskan, sektor keuangan digital saat ini tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga menyimpan berbagai risiko seperti fluktuasi harga ekstrem, ancaman keamanan digital, dinamika regulasi, potensi penipuan, hingga faktor psikologis investor.
Dengan karakteristik high risk high return dan volatilitas tinggi, Adi menekankan pentingnya pengambilan keputusan investasi yang tidak hanya berdasarkan tren atau potensi keuntungan semata, tetapi juga pemahaman fundamental terhadap mekanisme aset kripto.
Secara nasional, perkembangan aset kripto menunjukkan tren signifikan. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta pengguna. Sementara sepanjang 2025, nilai transaksi perdagangan kripto tercatat mencapai Rp482,23 triliun.
Ia juga menyoroti peran strategis mahasiswa sebagai generasi melek digital untuk menjadi agen literasi keuangan, guna membantu mengedukasi masyarakat dan menekan potensi kerugian akibat investasi yang tidak bijak.
Pemilihan Kota Ambon sebagai lokasi kegiatan DFL yang merupakan bagian dari Bulan Literasi Kripto (BLK) bertujuan mendorong pemerataan literasi keuangan digital di kawasan Timur Indonesia. Berdasarkan data SNLIK 2022, Provinsi Maluku masih mengalami kesenjangan antara indeks inklusi keuangan sebesar 81,04 persen dan indeks literasi keuangan sebesar 40,78 persen.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Rektor, menilai edukasi keuangan digital sangat penting di tengah perubahan cepat sektor keuangan.
“Perubahan di sektor keuangan berlangsung sangat cepat, bahkan melampaui perkembangan regulasi. Edukasi menjadi kunci agar generasi muda mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak,” ujar rektor.
Kuliah umum ini turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto, Chief Financial Officer Indonesia Crypto Exchange (ICEX) Rizky Indraprasto, Legal, Compliance & Government Relations PT Kripto Maksima Koin Eveline Shinta, serta Head of Marketing PT Multikripto Exchange Indonesia Vincent.
Kegiatan yang digelar secara luring ini diikuti sekitar 400 mahasiswa dan sivitas akademika. Hadir pula Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Mochammad Muchlasin, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan IAKD OJK Djoko Kurnijanto, Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady, serta Ketua Umum Asosiasi Blockchain Indonesia Robby.
Melalui program DFL, OJK memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi di berbagai daerah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan digital, sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang cerdas finansial, aman secara digital, dan matang dalam mengambil keputusan investasi berisiko tinggi. (F64)
