
Ambon, Fakta64.com – Kawasan Gong Perdamaian Dunia Ambon dipenuhi lautan kebaya dan ragam busana tradisional dalam peringatan Hari Kebaya Nasional 2026, Sabtu (25/7/2026).
Perayaan yang berlangsung meriah ini tidak sekadar menjadi ajang mengenakan kebaya, tetapi juga menjadi momentum memperkuat komitmen melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda.
Sejak pagi, ratusan peserta dari berbagai unsur memadati lokasi kegiatan. Hadir dalam perayaan tersebut istri Wakil Gubernur Maluku Ibu Rohani Vanath, Anggota DPRD Provinsi Maluku Ibu Nita Bin Umar, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), organisasi perempuan, komunitas budaya, Bunda PAUD Kota Ambon, hingga ratusan anak PAUD se-Kota Ambon yang tampil anggun mengenakan kebaya dan busana adat Nusantara.
Ketua Panitia, Aliwiyah F. Alaydrus, mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang telah menyukseskan penyelenggaraan Hari Kebaya Nasional di Ambon.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya bangsa.
“Hari Kebaya Nasional bukan hanya menjadi ajang mengenakan kebaya, tetapi juga sebagai upaya melestarikan warisan budaya bangsa sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas perempuan Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua DPD PIM Maluku, Ir. Rimaniar Juliandra, menegaskan bahwa kebaya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar busana tradisional. Kebaya, katanya, merupakan simbol persatuan, keanggunan, serta jati diri perempuan Indonesia yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Ia berharap peringatan Hari Kebaya Nasional mampu menjadi penggerak bagi seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya Indonesia di tengah arus modernisasi.
Sementara itu, Bunda PAUD Kota Ambon, Lisa M. Wattimena, mengajak para orang tua dan pendidik untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak sejak usia dini.
Menurutnya, keterlibatan ratusan anak PAUD dalam kegiatan tersebut menjadi langkah nyata membangun karakter generasi penerus yang bangga terhadap identitas budaya bangsa.
Puncak perayaan ditandai dengan Parade Kebaya yang mengambil rute dari Gong Perdamaian Dunia, melintasi sejumlah ruas jalan utama di pusat Kota Ambon, sebelum kembali ke lokasi awal sebagai titik finis.
Sepanjang perjalanan, peserta parade mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati sisi jalan, mengabadikan momen, serta memberikan dukungan kepada para peserta.
Setelah parade, kemeriahan berlanjut dengan pertunjukan seni budaya dan pembagian doorprize yang semakin menyemarakkan suasana. Nuansa kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat melestarikan budaya tampak mewarnai seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Hari Kebaya Nasional telah berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Perayaan ini menjadi ruang memperkuat persatuan, memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda, sekaligus menegaskan kebaya sebagai warisan budaya bangsa yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (F64)
