
Ambon, FAKTA64.com – Wakil Gubernur Maluku, H. Abdullah Vanath, menegaskan bahwa keberlanjutan investasi strategis, termasuk Proyek Lapangan Abadi Blok Masela, tidak cukup hanya ditopang oleh modal, teknologi, dan infrastruktur. Kepercayaan masyarakat, stabilitas sosial, serta perlindungan lingkungan harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan.
Pesan itu disampaikan Vanath saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Seminar Komunikasi Sosial (Komsos) TNI bertajuk “Socio-Culture Net Again Memastikan Sustainabilitas Operasional Proyek Lapangan Abadi Masela” di Ballroom Raja Seafood, Ambon, Selasa (20/10/2026), seminar digelar secara luring dan daring.
Di hadapan para pemangku kepentingan, Vanath menyoroti tantangan ekonomi Maluku yang dinilai masih sangat bergantung pada belanja pemerintah.
Menurutnya, ketergantungan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan investasi swasta agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergerak melalui belanja APBN dan APBD, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi produktif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi Maluku selama ini masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah, baik melalui belanja pegawai maupun proyek APBN dan APBD. Karena itu, kita membutuhkan investasi swasta yang lebih besar agar aktivitas ekonomi semakin berkembang dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Vanath.
Blok Masela dan Ujian Kepercayaan Investor
Pernyataan tersebut menempatkan Blok Masela bukan semata sebagai proyek industri migas berskala strategis, melainkan juga sebagai ujian bagi kemampuan Maluku membangun iklim investasi yang kondusif, inklusif, dan berkelanjutan.
Vanath menilai, keberhasilan proyek tidak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat di wilayah terdampak. Karena itu, komunikasi yang terbuka, kepastian sosial, serta sinergi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan operasional proyek.
Ia mengajak TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi. Melalui komunikasi sosial, berbagai pihak diharapkan mampu membangun kesamaan pemahaman, mengantisipasi potensi persoalan, serta mencegah munculnya kesenjangan antara kepentingan investasi dan aspirasi masyarakat lokal.
Seminar yang mengusung tema “Dengan Komunikasi Sosial TNI, Kita Dukung Program Pemerintah dalam Mewujudkan Asta Cita Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” itu mendapat apresiasi dari Wagub Maluku.
Ia menyampaikan penghargaan kepada TNI Angkatan Laut melalui Kodaeral IX Ambon atas inisiatif penyelenggaraan forum tersebut.
Jangan Sampai Masyarakat Hanya Menanggung Dampak
Di balik besarnya harapan terhadap investasi Blok Masela, Vanath juga mengingatkan pentingnya memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan sejak tahap persiapan hingga operasional proyek.
Menurutnya, langkah mitigasi harus dirancang secara matang agar pembangunan tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Maluku.
Perhatian tersebut mencakup keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat setempat, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta antisipasi terhadap kondisi yang mungkin muncul ketika kegiatan operasional perusahaan berakhir.
Pesan ini menjadi penting karena keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk atau aktivitas industri yang berjalan. Manfaat ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat juga harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.
Pemerintah Provinsi Maluku, kata Vanath, berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kolaborasi lintas sektor, tanpa mengesampingkan kesejahteraan masyarakat dan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Libatkan Seluruh Pemangku Kepentingan
Seminar tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Maluku, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, pejabat utama Kodaeral IX Ambon, anggota DPRD Provinsi Maluku, serta sejumlah pimpinan instansi vertikal.
Turut hadir Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia secara daring, Penasihat Ahli Kepala SKK Migas Bidang Kemaritiman, Rektor UIN A.M. Sangadji, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, narasumber, dan moderator.
Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan memperkuat komunikasi lintas sektor dalam mengawal keberlanjutan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela.
Namun, tantangan sesungguhnya tidak berhenti pada terselenggaranya seminar atau tercapainya kesepahaman di ruang diskusi. Komitmen yang dibangun perlu diterjemahkan ke dalam langkah konkret, mulai dari pelibatan masyarakat, pengelolaan dampak sosial dan lingkungan, hingga upaya memastikan manfaat ekonomi investasi dapat dirasakan secara lebih luas.
Bagi Maluku, Blok Masela membawa harapan besar terhadap peningkatan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Harapan itu hanya dapat diwujudkan apabila investasi berjalan beriringan dengan kepastian, keterbukaan, perlindungan lingkungan, dan penghormatan terhadap hak serta kepentingan masyarakat lokal.
Kini, tantangannya bukan sekadar mendatangkan investasi, tetapi memastikan investasi tersebut benar-benar meninggalkan manfaat berkelanjutan bagi Maluku. (Diskominfo Maluku)
