
Ambon, Fakta64.com – Perekonomian Provinsi Maluku menunjukkan performa positif pada triwulan II 2026. Bank Indonesia mencatat ekonomi Maluku tumbuh 5,31 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa geliat ekonomi daerah masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, serta tekanan biaya distribusi.
Hal itu disampaikan dalam Diseminasi Laporan Perkembangan Perekonomian Provinsi Maluku Triwulan II 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi Maluku.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Rahmat Pratama, mengatakan pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II 2026 mencapai 5,31 persen yoy.
Menurutnya, struktur perekonomian Maluku masih ditopang sejumlah lapangan usaha utama yang relatif konsisten, yakni pertanian, kehutanan dan perikanan, administrasi pemerintahan, perdagangan besar dan eceran, konstruksi, serta industri pengolahan.
Transfer Pusat dan Proyek Nasional Jadi Penggerak
Pertumbuhan ekonomi Maluku tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas belanja pemerintah.
Dana transfer dari pemerintah pusat yang masuk ke Provinsi Maluku dinilai relatif besar dan turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Selain itu, sejumlah proyek nasional yang tengah berjalan ikut menjadi penggerak. Di antaranya pembangunan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih dan beberapa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Pengembangan sejumlah batalyon juga ikut meningkatkan belanja pemerintah pusat di Maluku, sehingga memberikan efek terhadap aktivitas ekonomi di daerah.
Perikanan dan Pertanian Masih Jadi Andalan
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi salah satu penopang terbesar pertumbuhan ekonomi Maluku.
BI melihat adanya tren pemulihan nilai tukar petani, yang antara lain didukung membaiknya harga sejumlah komoditas global, termasuk ikan cakalang.
Kondisi tersebut diperkuat dengan tren volume produksi perikanan yang relatif membaik. Sejumlah indikator lain, seperti penyaluran kredit pertanian, produksi perikanan, dan harga ikan juga menunjukkan perkembangan positif.
Situasi ini menjadi modal penting bagi perekonomian Maluku yang masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam.
Perdagangan dan Transportasi Bergerak Positif
Perbaikan ekonomi juga terlihat dari sektor perdagangan dan transportasi. Penyaluran kredit perdagangan menunjukkan peningkatan. Sementara itu, aktivitas bongkar muat peti kemas dan konsumsi listrik juga tercatat relatif tumbuh.
Namun, tren positif tersebut belum terjadi secara merata pada seluruh sektor.
Sektor pariwisata dan perhotelan justru menunjukkan indikasi pelemahan. Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan jumlah tamu hotel berbintang di Maluku.
BI Proyeksi Ekonomi Maluku Tumbuh 5,45–5,85 Persen
Untuk keseluruhan tahun 2026, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Maluku tetap tumbuh positif pada kisaran 5,45 persen hingga 5,85 persen yoy.
Sejumlah faktor diperkirakan menjadi penopang pertumbuhan hingga akhir tahun. Di antaranya peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP), harga komoditas perikanan yang masih relatif tinggi, pengembangan klaster dan UMKM, serta semakin optimalnya realisasi belanja pemerintah pusat maupun daerah.
Realisasi sejumlah proyek strategis juga diperkirakan memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi Maluku.
Dengan demikian, momentum pertumbuhan yang sudah terbentuk pada semester pertama 2026 diharapkan dapat terus berlanjut hingga akhir tahun.
Risiko Global dan Harga BBM Masih Mengintai
Meski prospek ekonomi Maluku masih positif, BI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Ketidakpastian global yang masih berlangsung menjadi salah satu faktor utama. Fluktuasi nilai tukar serta harga BBM yang relatif tinggi juga berpotensi menekan biaya produksi dan distribusi.
Bagi Maluku yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan, kenaikan biaya distribusi menjadi persoalan penting karena dapat berdampak terhadap harga barang dan aktivitas perdagangan antarpulau.
Selain itu, peningkatan impor juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan II 2026 yang mencapai 5,31 persen memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi daerah masih berada dalam jalur pertumbuhan.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang belanja pemerintah dan proyek strategis, tetapi juga semakin kuat melalui peningkatan produktivitas sektor swasta, UMKM, pertanian, perikanan, perdagangan, serta sektor pariwisata. (F64)
