
Ambon, Fakta64.com – Tingkat penggunaan layanan keuangan masyarakat Maluku ternyata belum berbanding lurus dengan pemahaman terhadap produk keuangan. Data terbaru menunjukkan, tingkat inklusi keuangan di Provinsi Maluku telah mencapai 87 persen, namun tingkat literasi keuangan baru berada di angka 33 persen.
Kesenjangan tajam tersebut menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku. Artinya, sebagian besar masyarakat Maluku sudah menggunakan produk dan layanan keuangan, tetapi belum tentu memahami manfaat, biaya, karakteristik hingga risiko dari produk yang digunakan.
Persoalan itu mengemuka dalam kegiatan Hari Indonesia Menabung dan Puncak Bulan Literasi Keuangan Provinsi Maluku 2026 di Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur Watubun, serta unsur pemerintah daerah, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kementerian Agama, organisasi perangkat daerah, kepala sekolah, guru dan pelajar.
Ketua OJK Maluku, Haramain Billady, mengatakan kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan perlu menjadi perhatian bersama.
“Literasi itu tingkat pemahaman, yaitu seberapa paham masyarakat terhadap produk keuangan. Sedangkan inklusi adalah seberapa banyak masyarakat yang menggunakan produk dan layanan keuangan,” kata Billady.
Menurut dia, tingginya angka inklusi tidak serta-merta menunjukkan masyarakat telah memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik.
Masyarakat, kata Billady, bisa saja telah memiliki rekening bank, menggunakan pembayaran digital atau memanfaatkan berbagai produk jasa keuangan. Namun, belum tentu seluruh pengguna memahami biaya, manfaat dan risiko yang melekat pada produk tersebut.
Kondisi inilah yang dinilai berpotensi membuat masyarakat lebih rentan mengambil keputusan keuangan yang keliru, termasuk menjadi sasaran tawaran investasi bodong maupun layanan keuangan ilegal.
Secara nasional, tingkat literasi keuangan Indonesia mengalami peningkatan dari 66,64 persen menjadi 69,57 persen. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya tercermin di Maluku.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” kata Billady.
OJK Maluku juga memberi perhatian khusus terhadap kelompok pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan data yang dipaparkan, tingkat literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa masih berada pada kisaran 62,7 persen, sementara tingkat inklusi keuangannya telah mencapai sekitar 92,76 persen.
“Makanya ini perlu kita tingkatkan. Harapan kita, untuk anak-anak SMP dan SMA ke atas, literasinya bisa terus meningkat dan mendekati angka nasional,” ujarnya.
Menurut Billady, pendidikan keuangan harus diperkenalkan sejak usia sekolah. Pelajar tidak cukup hanya diajarkan untuk menabung, tetapi juga harus memahami cara mengelola uang, mengenali produk dan layanan keuangan, memahami risiko serta mampu membedakan lembaga keuangan resmi dan ilegal.
Kemampuan tersebut dinilai penting sebagai bekal generasi muda sebelum memasuki usia produktif dan mulai mengambil keputusan keuangan secara mandiri.
Billady menambahkan, tahun 2026 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya tersedia data tingkat literasi dan inklusi keuangan secara khusus untuk Provinsi Maluku.
Data tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah, OJK dan seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program peningkatan literasi keuangan yang lebih tepat sasaran.
“Ini merupakan titik awal yang bisa kita jadikan pegangan. Kami mohon dukungan pemerintah provinsi, pemerintah kota, dinas terkait, serta seluruh lembaga jasa keuangan untuk bersama-sama meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Maluku,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2026, OJK Maluku telah melaksanakan 82 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau sekitar 9.300 masyarakat.
Namun, dengan tingkat literasi yang masih berada di angka 33 persen, tantangan besar masih menanti.
Tingginya penggunaan layanan keuangan di Maluku kini harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai, agar masyarakat tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial secara cerdas dan aman. (F64)
