
Ambon, Fakta64.com – Laut bukan sekadar jalur pemisah antarpulau. Di Maluku, bentangan laut juga menjadi tantangan nyata dalam memastikan layanan negara hadir hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
Tantangan geografis itu kembali dijawab melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026, hasil sinergi Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX dan Bank Indonesia (BI) untuk memastikan masyarakat di pelosok Maluku tetap memperoleh uang Rupiah yang cukup dan layak edar.
Misi tersebut resmi diberangkatkan menggunakan KRI Posepa-870 dari Satuan Kapal Patroli Kodaeral IX, Dermaga Irian, Mako Kodaeral IX, Halong, Ambon, Jumat (28/8/2026).
Pelepasan dilakukan Komandan Kodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Surya Alamsyah.
Usai prosesi, rombongan pejabat dan undangan turut mengikuti joy sailing menggunakan KRI Posepa-870 menuju Dermaga Ksatriaan Tawiri.
896 NM Menembus Laut Maluku
Di bawah komando Mayor Laut (P) Muhammad Fachri Wardana, KRI Posepa-870 membawa misi pelayanan Rupiah ke lima wilayah 3T, yakni Pulau Wetar, Kisar, Moa, Damer, dan Banda.
Ekspedisi berlangsung selama tujuh hari, 28 Agustus hingga 3 September 2026, dengan rute Ambon–Wetar–Kisar–Moa–Damer–Banda–Ambon dan total jarak tempuh sekitar 896 nautical mile (NM).
Jarak tersebut bukan sekadar angka dalam peta. Ia menggambarkan medan pelayanan yang harus ditempuh untuk memastikan Rupiah hadir secara nyata di tengah masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses dan infrastruktur.
Bagi Bank Indonesia, distribusi uang Rupiah hingga wilayah 3T bukan hanya persoalan ekonomi. Rupiah merupakan simbol kedaulatan negara.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Surya Alamsyah, menegaskan bahwa Rupiah harus tersedia dalam jumlah yang memadai sekaligus dalam kondisi layak edar di seluruh wilayah Indonesia.
“Sinergi Bank Indonesia dan TNI AL menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan geografis serta keterbatasan infrastruktur dalam menjangkau masyarakat di wilayah 3T,” katanya.
Ketika Rupiah Menjadi Simbol Kehadiran Negara
Dalam sambutan Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksamana Madya TNI Yayan Sofiyan yang dibacakan Komandan Kodaeral IX, ditegaskan bahwa ERB 2026 merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama antara Bank Indonesia dan TNI AL terkait pendistribusian, pengamanan, dan pengawalan uang Rupiah ke wilayah 3T.
Sinergi itu menjadi penting karena Indonesia memiliki bentang geografis yang luas dengan ribuan pulau yang tersebar. Tidak semua wilayah dapat dijangkau secara mudah melalui jalur transportasi umum.
Di titik inilah kemampuan TNI AL menjadi strategis.
Dengan armada dan kemampuan operasi di wilayah perairan, TNI AL dapat membuka akses menuju daerah-daerah yang secara geografis sulit dijangkau. Sementara BI memastikan kebutuhan uang Rupiah masyarakat tetap terpenuhi.
“Melihat kondisi geografis Indonesia dengan wilayah yang luas dan sebaran pulau yang sangat banyak, menjaga dan mempertahankan kedaulatan bangsa merupakan tantangan tersendiri. Hal tersebut tidak dapat dilakukan sendiri tanpa adanya persatuan dan sinergi seluruh elemen bangsa,” ungkapnya.
ERB 2026 dengan demikian tidak berhenti pada kegiatan distribusi uang. Ekspedisi ini membawa pesan yang lebih besar: negara tidak boleh absen hanya karena wilayahnya sulit dijangkau.
Ketersediaan Rupiah yang cukup dan layak edar menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran transaksi masyarakat, menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, sekaligus memperkuat kehadiran negara di kawasan kepulauan dan perbatasan.
Dari Ambon, KRI Posepa-870 pun berlayar membawa lebih dari sekadar misi logistik. Ia membawa mandat untuk memastikan Rupiah tetap berdaulat sampai ke pulau-pulau terluar Maluku. (F64)
