
Ambon, Fakta64.com — Ancaman kejahatan keuangan di era digital kini tidak lagi hanya membidik orang dewasa. Anak-anak yang semakin aktif menggunakan gawai, bermain game online hingga mengakses berbagai platform digital juga berpotensi menjadi sasaran penipuan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Haramain Billady, mengingatkan pentingnya membekali anak-anak dengan pemahaman literasi keuangan sejak dini agar mampu mengenali risiko dan tidak mudah terjebak berbagai modus penipuan digital.
“Banyak sekali penipuan-penipuan keuangan. Mungkin tidak hanya orang dewasa saja yang kena, tapi anak-anak melalui game dan sebagainya juga bisa terpapar terhadap penipuan,” peringatan itu disampaikan Haramain saat kegiatan CIMB Niaga Goes to School di SD Negeri 4 Ambon, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat anak-anak semakin dekat dengan aktivitas digital. Kondisi tersebut, kata dia, harus diimbangi dengan kemampuan memahami penggunaan uang dan mengenali berbagai risiko yang muncul di ruang digital.
“Karena itu, literasi keuangan bagi anak-anak tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di dalam kelas. Edukasi harus dikemas dengan metode yang sederhana, menarik dan menyenangkan agar mudah dipahami. Kita lakukan melalui permainan, melalui game, sehingga kegiatan edukasi itu bisa benar-benar masuk ke mereka dan secara tidak sadar mereka melakukan ini,” ujarnya.
Dijelaskan, selain membangun kewaspadaan terhadap penipuan, Haramain juga mendorong para siswa mulai membiasakan diri menabung sejak usia dini.
Ia mengingatkan bahwa uang jajan tidak harus seluruhnya dihabiskan untuk membeli makanan maupun mainan. Sebagian uang, menurutnya, perlu disisihkan secara rutin untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan.
“Boleh beli jajan, boleh sedikit-sedikit, tapi sebagian itu digunakan untuk menabung,” pesannya.
Haramain menegaskan, kebiasaan menabung tidak harus dimulai dengan nominal besar. Yang terpenting adalah konsistensi dalam menyisihkan uang.
“Yang penting habis beli mainan, nabung lagi. Jadi tetap kita menabung, ada yang disisihkan untuk apa yang mau adik-adik gunakan, tapi jangan lupa menabung secara rutin,” tandasnya.
Untuk memastikan kebiasaan tersebut terus berjalan, Haramain bahkan meminta CIMB Niaga Cabang Ambon melakukan pendampingan secara rutin kepada para siswa.
Ia berharap mekanisme menabung dapat dilakukan secara berkala sehingga uang yang disisihkan anak-anak tidak hanya menjadi kebiasaan sementara, tetapi benar-benar tumbuh menjadi budaya pengelolaan keuangan sejak dini.
“Saya minta juga kepada CIMB Niaga Cabang Ambon, Pak Sam dan tim, bisa secara rutin ke sekolah untuk menarik uang tabungannya supaya benar-benar apa yang mereka tabung mungkin tiap minggu atau beberapa minggu sekali bisa langsung secara bulanan ditabung ke CIMB,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Haramain juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Ambon yang terus memperkuat literasi keuangan di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, Kota Ambon telah memiliki modul ajar literasi keuangan yang terintegrasi dalam mata pelajaran IPS untuk jenjang SMP dan MTs.
Modul yang diluncurkan pada Mei 2026 tersebut disebut menjadi modul ajar literasi keuangan pertama di Indonesia untuk jenjang SMP/MTs.
“Harapannya nanti ke depan, kalau sudah SMP mungkin kita akan bikin juga bagaimana untuk SD, tapi yang lebih ke games-games,” jelasnya.
Penguatan literasi keuangan ini juga sejalan dengan program BETA KEJAR (Bersama Tingkatkan Literasi Keuangan, Satu Rekening Satu Pelajar) yang didorong Pemerintah Kota Ambon bersama OJK.
Sementara itu, program CIMB Niaga Goes to School menjadi bagian dari rangkaian Bulan Literasi Keuangan 2026.
Melalui program Tour de Bank (TDB), edukasi kepada siswa sekolah dasar dikemas secara interaktif melalui permainan dan berbagai aktivitas menarik. Materi tentang mengenal uang, membangun kebiasaan menabung hingga mengelola keuangan diperkenalkan dengan cara yang lebih mudah dipahami anak-anak.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan semakin beragamnya modus kejahatan digital, OJK Maluku menegaskan bahwa membangun literasi keuangan sejak usia dini bukan lagi sekadar program edukasi, melainkan bagian penting dalam melindungi generasi muda dari risiko penipuan di masa depan. (F64)
