
Jakarta, Fakta64.com – Konsep halal kini dinilai berkembang melampaui sekadar sertifikasi produk. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap transparansi, integritas, dan nilai sebuah brand, halal semakin dipandang sebagai fondasi kepercayaan sekaligus arah strategis bisnis yang dijalankan secara menyeluruh.
Perspektif tersebut menjadi sorotan dalam peluncuran buku Authentic Halal Brand, Dilengkapi Studi Kasus Merek yang Mengusung Nilai-nilai Halal terbitan IHATEC Publisher yang resmi diluncurkan pada 20 Mei 2026.
Buku ini membahas perkembangan industri halal global yang kini semakin mengedepankan pendekatan value-driven brand. Halal tidak lagi hanya dipahami sebagai standar kepatuhan produk, tetapi juga representasi transparansi, tanggung jawab, dan integritas brand secara menyeluruh.
Founder & CEO Inspark Indonesia sekaligus penggagas konsep Authentic Halal Brand, Dr. Wahyu T. Setyobudi, mengatakan, bahwa brand saat ini dituntut mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam identitas, budaya, hingga pengalaman konsumen.
“Authentic Halal Brand tumbuh dari kepedulian nyata sebuah brand untuk menjadikan nilai halal bukan sekadar atribut, melainkan value yang menyatu, menghidupkan arah bisnis, budaya, inovasi, hingga makna yang dirasakan konsumen,” ucapnya dalam rilis yang diterima media ini, kemarin.
Dalam buku tersebut, dua brand milik ParagonCorp, yakni Wardah dan Kahf, mendapat perhatian sebagai contoh brand yang berhasil mengimplementasikan konsep Authentic Halal Brand secara menyeluruh.
Keduanya ditempatkan pada tingkat maturitas tertinggi, yakni Level 4 Authentic Halal Brand, karena dinilai mampu menghadirkan nilai halal secara konsisten dalam proses bisnis, komunikasi brand, hingga kontribusi sosial yang berkelanjutan.
Diketahui, wardah disebut sebagai salah satu brand yang berhasil mengubah persepsi halal di industri kecantikan Indonesia. Sejak awal kehadirannya, Wardah dinilai tidak hanya menjadikan halal sebagai atribut produk, tetapi juga nilai yang mendorong keberanian, keberdayaan, dan relevansi yang inklusif lintas generasi.
Senior Group Head Wardah Masterbrand & Skincare Paragon Technology and Innovation, Novia Sukmawaty, mengatakan, bahwa halal bagi Wardah merupakan komitmen untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bagi Wardah, halal bukan hanya tentang apa yang boleh digunakan, tetapi tentang bagaimana sebuah brand dapat menghadirkan rasa aman, percaya, dan kebermanfaatan secara konsisten. Kami percaya halal harus hidup dalam kualitas produk, proses bisnis, hingga kontribusi yang kami hadirkan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut turut mendorong Wardah untuk terus menghadirkan inovasi berbasis sains, komunikasi yang bertanggung jawab, serta berbagai inisiatif sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kahf dipandang sebagai contoh bagaimana nilai halal diterjemahkan secara kontekstual dan relevan bagi generasi pria modern. Dalam buku tersebut, Kahf diperkenalkan sebagai companion brand yang hadir menemani perjalanan konsumen menjadi versi diri yang lebih baik tanpa pendekatan yang menggurui.
Group Head of Brand Development PC & Innovation Kahf, Andrie Kurniarahman, menjelaskan, bahwa pendekatan tersebut lahir dari pemahaman bahwa konsumen saat ini membutuhkan brand yang autentik dan relevan dengan perjalanan hidup mereka.
“Bagi Kahf, halal bukan hanya menjadi fondasi produk, tetapi nilai yang diterjemahkan secara relevan dalam kehidupan pria modern. Karena itu, Kahf ingin tumbuh bersama konsumen dengan membangun ekosistem positif bersama komunitas dan partner yang memiliki semangat sejalan, serta hadir sebagai pendamping dalam perjalanan mereka menjadi versi diri yang lebih baik,” tuturnya.
Selain membahas Wardah dan Kahf, buku Authentic Halal Brand juga menghadirkan berbagai studi kasus lintas industri, mulai dari makanan, logistik, hingga hospitality. Buku ini menunjukkan bahwa nilai halal dapat menjadi fondasi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Melalui peluncuran buku ini, IHATEC berharap semakin banyak pelaku industri memandang halal bukan sekadar standar kepatuhan, tetapi sebagai kerangka nilai yang mampu membangun kepercayaan, loyalitas, dan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat. (F64)
