
Ambon, Fakta64.com — Kain tenun ikat Tanimbar kembali mendapat panggung di tingkat nasional melalui keikutsertaan dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) Bank Indonesia (BI) di Jakarta.
Di balik karya tersebut, terdapat perjalanan panjang para pengrajin dalam mempertahankan tradisi tenun tangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu pengrajin yang ambil bagian dalam ajang tersebut adalah Lusi Kormasela, pemilik Tenun Ikat Mawar.
Ia mengungkapkan, keikutsertaannya dalam KKI tidak terlepas dari proses pembinaan yang dilakukan Bank Indonesia selama kurang lebih lima hingga enam tahun.
Menurutnya, selama menjadi binaan BI, dirinya telah mengikuti berbagai pelatihan sekaligus memperoleh akses pasar yang membantu pengembangan usaha tenun khas Tanimbar.
“Memang sudah menjadi binaan Bank Indonesia kurang lebih lima sampai enam tahun. Selama itu kami mengikuti banyak pelatihan, kemudian BI juga membuka akses pasar,” katanya saat ditemui menjaga stand tenun, di karya kreatif Indonesia 2026, Sabtu, (22/8/2026).
Dijelaskan, tenun yang dibawanya berasal dari Tanimbar, Maluku, sementara aktivitas penjualan dan pengembangan usaha juga dilakukan di kawasan Tawiri, Kota Ambon.
“Usaha tenun tersebut memiliki sejarah panjang. Lusi menyebut aktivitas menenun telah dilakukan keluarganya sejak sekitar 2010, kemudian pengembangan usaha dilakukan secara lebih serius pada periode 2016 hingga 2019. Yang menjadi kekuatan utama Tenun Ikat Mawar adalah proses produksinya yang masih mempertahankan teknik tradisional,” ujarnya.
Setiap kain dibuat, kata dia, menggunakan tangan dan alat tenun, tanpa bantuan mesin.
“Masih tangan, tidak pakai mesin. Masih gedokan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dikatakan, dalam proses produksi, pengrajin menggunakan benang katun yang hingga kini masih diperoleh dari toko. Untuk menghasilkan satu lembar kain, dibutuhkan sekitar tiga ikat benang. Sementara harga satu ikat benang saat ini mencapai sekitar Rp18.000.
Menariknya, Lusi menyebut dirinya sebagai satu-satunya produsen tenun ikat yang masih menjalankan produksi tersebut di Kota Ambon.
Ribuan Motif dari Identitas Maluku
Bagi Lusi, tenun bukan sekadar kain bernilai ekonomi. Setiap lembar memiliki cerita dan identitas daerah yang dituangkan melalui motif.
“Beragam motif yang telah dihasilkan oleh tangan kreatif dari Tanimbar. Ada puluhan bahkan ribuan karya yang telah dihasilkan,” ungkapnya.
Salah satu yang dikenal adalah Lelemuku, yang memiliki arti bunga anggrek dan menjadi salah satu identitas tenunan khas Tanimbar.
Selain itu, terdapat motif tahuri, ukulele, gitar, Siwalima, Siwatalang, hingga motif yang mengambil inspirasi dari karakteristik wilayah Maluku Barat Daya.
Menurut Lusi, setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing yang kemudian diterjemahkan ke dalam desain tenun.
“Setiap daerah diambil dari ciri khas lokal masing-masing,” jelasnya.
Proses pembuatan tenun juga tidak bisa dilakukan secara instan. Para pengrajin menggunakan papindahan, yakni alat tenun tradisional, dalam proses pengerjaannya.
Dahulu, proses pembuatan kain bahkan menggunakan kapas yang diolah hingga menjadi benang sebelum kemudian dianyam menjadi kain. Namun, proses tersebut kini sudah tidak lagi dilakukan karena bahan baku kapas dalam praktik produksi mereka telah digantikan dengan benang katun.
“Salah satu karakteristik tenun ikat yang dipertahankan adalah penggunaan dua helai benang yang digabungkan kemudian diberi pewarna sebelum masuk dalam proses penenunan,” tuturnya.
Produksi Terbatas, Nilai Ekonomi Tinggi
Diketahui, Keterbatasan proses produksi menjadi salah satu alasan mengapa kain tenun memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi. Seluruh proses masih mengandalkan keterampilan tangan pengrajin, sehingga jumlah produksinya tidak bisa disamakan dengan produk tekstil yang dibuat menggunakan mesin.
Dijelaskan, dalam satu bulan, Tenun Ikat Mawar mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 20 lembar tenun, dengan produksi kain lebih banyak dibandingkan produk berupa syal.
Namun, di tengah perkembangan zaman, keberadaan tenun tradisional menghadapi tantangan tersendiri. Regenerasi pengrajin, ketersediaan bahan baku, proses produksi yang panjang serta penetrasi produk tekstil modern menjadi persoalan yang harus dihadapi. Meski demikian, Lusi menegaskan bahwa tradisi tersebut tetap dipertahankan karena memiliki nilai budaya yang kuat.
“Tenun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tanimbar secara turun-temurun. Bahkan, dalam tradisi masyarakat setempat, kain tenun memiliki posisi penting dalam prosesi perkawinan dan menjadi salah satu syarat utama dalam pernikahan,” ungkapnya.
Warisan tersebut, kata Lusi, telah dijalankan keluarganya sejak orang tuanya masih duduk di bangku sekolah.
Keikutsertaan Tenun Ikat Mawar dalam Karya Kreatif Indonesia BI di Jakarta pun menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk lokal Maluku ke pasar yang lebih luas.
Bagi para pengrajin, dukungan pembinaan dan akses pasar bukan hanya soal meningkatkan penjualan. Lebih jauh, hal itu menjadi ruang untuk memastikan tenun Tanimbar tetap hidup, berkembang dan tidak kehilangan identitasnya di tengah arus industri modern.
“Dengan tangan-tangan pengrajin yang terus bekerja, setiap helai benang tidak sekadar berubah menjadi kain, tetapi menjadi bagian dari cerita panjang budaya Maluku yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (F64)
