
Ambon, Fakta64.com – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, membuka Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 di Pattimura Park, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Jukulele Par Semua, Ambon Par Dunia” itu diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Ambon bekerja sama dengan TP-PKK Kota Ambon dan Ambon Music Office (AMO).
Pembukaan lomba berlangsung meriah dan ditandai dengan penekanan tombol remote oleh Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta, Sekretaris Kota Robby Sapulette, Ketua DPRD Kota Ambon Mourits L. Tamaela, Ketua TP-PKK Kota Ambon Lisa Wattimena, Ketua DWP Saartje Sapulette serta unsur Forkopimda.
Momen tersebut dilanjutkan dengan penayangan cinematic pendek melalui Videotron Pattimura Park.
Dalam sambutannya, Bodewin melontarkan target besar untuk pelaksanaan Lomba Jukulele pada tahun mendatang.
Ia menginginkan Ambon mampu mencatatkan sejarah melalui pemecahan rekor MURI, bahkan membuka peluang untuk mencetak rekor dunia dengan jumlah pemain Jukulele terbanyak.
“Jadi saya ingin tahun depan kalau saya naik di podium seperti ini lagi, kita bikin acara pemecahan rekor MURI atau rekor dunia soal pemain Jukulele terbanyak di Indonesia dan kalau bisa di dunia,” kata Wattimena.
Namun, ambisi besar menjadikan Ambon sebagai pusat perkembangan musik tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan festival dan perlombaan.
Di hadapan jajaran Pemerintah Kota Ambon, Wali Kota secara tegas memerintahkan agar kurikulum musik kembali dijalankan secara serius di seluruh sekolah di Kota Ambon.
“Saya minta kurikulum musik kembali dijalankan di seluruh sekolah-sekolah di Kota Ambon. Pak Sekkot, ini perintah. Seng ada lagi alasan. Apa pun masalahnya, segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” ujar Wattimena.
Bodewin bahkan memberikan batas waktu selama satu bulan kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Kota Ambon untuk memastikan program tersebut kembali berjalan.
Menurutnya, langkah itu menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi musisi Ambon di masa depan. Sebab, status Ambon Kota Musik tidak boleh hanya menjadi slogan atau sekadar kebanggaan atas pengakuan yang telah diterima.
“Ambon Kota Musik bukan sekadar pengakuan dan narasi, tetapi mesti menjadi motivasi kita untuk melakukan berbagai hal untuk memastikan 10-20 tahun ke depan kota kecil ini akan lahir musisi-musisi hebat yang akan mengisi panggung-panggung nasional dan internasional,” tegas Wattimena.
Ia menilai tema “Jukulele Par Semua, Ambon Par Dunia” memiliki makna kuat tentang kebersamaan dan persatuan masyarakat Kota Ambon.
Menurut Bodewin, Jukulele merupakan bagian dari identitas musik tradisional Ambon yang tidak boleh dibatasi oleh perbedaan latar belakang masyarakat.
“Jukulele tidak disekat oleh perbedaan-perbedaan yang kita miliki. Jukulele mesti menjadi alat pemersatu kita, bahwa identitas Kota Ambon, musik tradisional ini mesti menjadi alat pemersatu kita untuk bersama-sama menghidupkan musik di Kota Ambon, tapi juga membangun hubungan persaudaraan antara orang basudara di Kota Ambon untuk terus membangun kota ini semakin maju ke depan,” tutur Wattimena.
Lebih lanjut, Bodewin mengingatkan bahwa pengakuan Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO bukan hanya sebuah prestise, tetapi juga membawa tanggung jawab besar bagi pemerintah dan seluruh masyarakat.
Pengakuan tersebut, kata dia, harus terus dijaga dan dikembangkan melalui berbagai program nyata yang mampu memperkuat ekosistem musik dan kreativitas di Kota Ambon.
“Hal tersebut harus memotivasi kita semua untuk terus memastikan pengakuan itu bisa kita jaga dan kita kembangkan supaya kota kreatif berbasis musik itu tumbuh berkembang lewat berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Ambon dan semua pihak yang terkait di dalamnya,” jelas Wattimena.
Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon 2026 pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi menjadi ruang bersama untuk melestarikan musik tradisional, memperkuat persaudaraan serta menegaskan identitas Ambon sebagai kota yang hidup dan bertumbuh bersama musik.
(F64)
