
Ambon, Fakta64.com – Upaya meningkatkan kualitas dan nilai jual cengkeh di Maluku terus diperkuat. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PM) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Pattimura (Unpatti) menghadirkan teknologi pengering cengkeh berbasis energi matahari bagi petani di Desa Kamarian, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Program tersebut menjadi jawaban atas persoalan klasik yang selama ini dihadapi petani, yakni proses pengeringan cengkeh yang tidak merata sehingga berdampak pada kualitas hasil panen. Selama ini, cengkeh umumnya dipasarkan dalam bentuk kering dengan standar kadar air maksimal 14 persen atau idealnya berada pada kisaran 10–12 persen.
Kegiatan dipimpin oleh Prof. Ari Widyanti dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB bersama Intan Taufik, Ph.D. dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat ITB, Prof. Ari Widyanti, Ph.D., menjelaskan, bahwa teknologi pengering sederhana berbasis energi surya tersebut dirancang agar mudah diterapkan masyarakat dengan biaya yang terjangkau.
Program ini juga melibatkan akademisi Universitas Pattimura, yakni Prof. Wilma Latuny dari Fakultas Teknik (Teknik Industri), David Tuhurima, S.Pd., M.Pd. dari FKIP (Pendidikan Fisika), serta Victor Lawalata, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik (Teknik Industri).
“Sebanyak tujuh unit pengering cengkeh diserahkan kepada masyarakat, terdiri atas enam unit untuk masing-masing dusun di Desa Kamarian dan satu unit untuk pemerintah desa. Pengering tersebut diharapkan dapat digunakan secara bergiliran maupun menjadi model bagi warga yang ingin membangun alat serupa secara mandiri,” ucapnya dalam rilis yang diterima media ini, Sabtu, (1/8/2026).
Menurutnya, berbeda dengan rumah kaca atau green house yang membutuhkan biaya besar, teknologi ini dirancang menggunakan material sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Rangka pengering dapat dibuat dari kayu atau bambu, sedangkan bagian badan dapat menggunakan triplek, seng, maupun kain bekas yang dicat hitam. Sementara plastik UV menjadi satu-satunya komponen utama yang perlu dibeli masyarakat.
Diketahui, selain menyerahkan alat pengering, tim juga memberikan alat pengukur kadar air untuk membantu petani memastikan kualitas cengkeh sebelum dipasarkan. Pelatihan turut mencakup materi diversifikasi produk, teknik pengemasan (packaging), hingga pemanfaatan sistem Resi Gudang sebagai alternatif agar hasil panen tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak atau pengepul.
Prof. Ari Widyanti menegaskan bahwa penerapan teknologi pengering berbasis energi matahari memberikan manfaat nyata bagi petani, baik dari sisi teknis maupun ekonomi.
“Teknologi ini memberikan dampak positif terutama pada peningkatan mutu hasil panen, efisiensi waktu, serta kemandirian energi petani,” ujarnya.
Menurutnya, suhu panas yang lebih merata mampu menghasilkan warna dan kadar air cengkeh yang seragam sekaligus mengurangi risiko kontaminasi debu. Selain itu, proses pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca, sementara penggunaan energi matahari mampu menekan biaya operasional karena tidak membutuhkan bahan bakar maupun listrik konvensional.
Lebih jauh, program pengabdian ini juga diharapkan memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Kualitas cengkeh yang lebih baik diyakini dapat meningkatkan nilai jual dan pendapatan petani, sementara transfer pengetahuan mengenai teknologi tepat guna menjadi bekal penting untuk mendorong kemandirian dan keberlanjutan sektor perkebunan rempah di Maluku.
Kegiatan sosialisasi diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, para kepala dusun, dan petani cengkeh. (F64)
