
BULA, Fakta64.com — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai mengganggu aktivitas warga di Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mendorong kepedulian masyarakat untuk turun tangan.
Komunitas Milanisti Indonesia Bula mengambil langkah nyata dengan membagikan 800 masker secara gratis kepada pengendara dan warga di sejumlah titik Kota Bula, Rabu (12/8/2026).
Aksi sosial tersebut dilakukan menyusul kondisi udara yang dalam beberapa waktu terakhir kerap diselimuti asap pada jam-jam tertentu akibat kebakaran hutan dan lahan.
Ketua Milanisti Indonesia Bula, Gafur Rumagia, mengatakan, pembagian masker merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang setiap hari harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap.
“Jadi masker yang dibagikan sekitar ada 25 dos, yang berjumlah 800 masker,” ungkap Gafur kepada wartawan.
Menurut Gafur, aksi tersebut merupakan inisiatif para pendukung klub sepak bola AC Milan yang berdomisili di Kota Bula.
Langkah serupa, kata dia, juga pernah dilakukan komunitas tersebut pada tahun sebelumnya ketika wilayah Bula dilanda kabut asap akibat karhutla.
Dijelaskan, Pembagian masker pada Rabu sore dipusatkan di perempatan KPU Bula. Kegiatan berlangsung selama satu jam, mulai pukul 16.30 hingga 17.30 WIT.
Dia menambahkan, Tak berhenti di satu lokasi, Milanisti Indonesia Bula berencana kembali membagikan masker kepada masyarakat pada Kamis (13/8/2026) pagi.
“Rencana besok jam 6.30 di perempatan Masjid Raya Bula,” ujarnya.
Bula Jadi Wilayah Paling Rawan Karhutla
Dijelaskan, Persoalan kabut asap di Bula bukan tanpa alasan. Data sementara dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) SBT menunjukkan Kecamatan Bula menjadi salah satu wilayah yang paling rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Kepala UPTD KPH SBT, Musa Rumakat, sebelumnya mengungkapkan, kondisi vegetasi menjadi salah satu faktor yang membuat wilayah tersebut mudah terbakar.
“Karena tipe hutan di sini ditumbuhi semak belukar kering. Hampir 38 persen itu semak belukar. Makanya sangat mudah terjadi kebakaran apalagi di tengah matahari yang terik,” jelasnya.
Berdasarkan data geospasial sementara, dari total 280 hektare lahan yang terbakar, Kecamatan Bula menyumbang luasan terbesar dengan 210 hektare. Disusul Bula Barat 42 hektare dan Teluk Waru 28 hektare.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla di SBT bukan sekadar gangguan musiman. Luasan lahan yang terdampak sekaligus menjadi peringatan bahwa ancaman asap dan kebakaran masih perlu mendapat perhatian serius.
Damkar Minta Warga Tak Bakar Lahan
Di tengah meningkatnya titik kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan SBT mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terlebih di tengah kondisi vegetasi yang kering dan cuaca panas.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul maraknya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik di Kota Bula dalam beberapa hari terakhir.
Aksi Milanisti Indonesia Bula menjadi gambaran bahwa persoalan kabut asap bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam kebakaran. Ketika asap mulai mengganggu ruang publik dan aktivitas warga, kepedulian masyarakat pun dituntut hadir secara nyata.
Di tengah ancaman karhutla yang belum sepenuhnya mereda, satu hal menjadi penting: mencegah kebakaran jauh lebih penting daripada sekadar membagikan masker ketika asap sudah menyelimuti kota. (F64)
