
Ambon, Fakta64.com — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mendorong Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Maluku memperkuat peran nyata dalam penanganan stunting, penguatan gerakan orang tua asuh, dan pemberdayaan UMKM perempuan.
Dorongan itu disampaikan saat membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) IV Muslimat NU Provinsi Maluku yang dirangkaikan dengan kegiatan penanganan stunting, gerakan orang tua asuh, dan pemberdayaan UMKM di Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Rabu (26/8/2026).
Hendrik menegaskan, Konferwil tidak boleh berhenti pada agenda pergantian kepengurusan, tetapi harus menjadi momentum evaluasi dan konsolidasi organisasi untuk melahirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Konferensi Wilayah bukan sekadar agenda organisasi untuk memilih dan menetapkan kepengurusan. Lebih dari itu, Konferensi Wilayah harus menjadi ruang konsolidasi gagasan, penguatan organisasi, evaluasi perjalanan, serta perumusan langkah strategis untuk menjawab berbagai persoalan umat, bangsa dan daerah,” tegasnya.
Menurut Hendrik, Muslimat NU memiliki posisi strategis karena jaringannya menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput. Kekuatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan keluarga, mendidik generasi muda, serta menggerakkan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.
Terkait penanganan stunting, ia menekankan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia dan masa depan generasi Maluku.
“Stunting bukan semata persoalan kesehatan. Ia adalah persoalan masa depan sumber daya manusia. Mengatasinya tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan gotong royong: pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, tokoh agama, hingga keluarga sebagai garda terdepan,” ujarnya.
Karena itu, Hendrik mendorong penguatan gerakan orang tua asuh sebagai wujud kepedulian bersama terhadap pemenuhan kebutuhan anak. Pemerintah, katanya, ingin memastikan setiap anak memperoleh gizi yang cukup, pendidikan yang layak, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Selain kesehatan dan perlindungan anak, Gubernur menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pengembangan UMKM. Ia meminta pelaku usaha, khususnya perempuan dan para ibu, mendapat dukungan agar mampu meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas pasar.
“UMKM, khususnya yang digerakkan oleh perempuan dan para ibu, harus kita dorong untuk naik kelas. Artinya: akses pembiayaan lebih mudah, pasar lebih luas, kualitas produk meningkat, dan pemanfaatan teknologi digital semakin masif,” katanya.
Hendrik menyebut Maluku memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari hasil laut, pertanian, perkebunan, kerajinan hingga kuliner. Namun, potensi tersebut perlu diolah menjadi produk bernilai tambah melalui peningkatan kualitas, kemasan, legalitas usaha, akses permodalan, dan strategi pemasaran.
Ia berharap Muslimat NU ikut mengambil bagian melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, penguatan koperasi, pemanfaatan teknologi digital, serta perluasan jejaring pemasaran bagi UMKM perempuan.
Pemerintah Provinsi Maluku, lanjutnya, terbuka untuk memperkuat kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan agar program pemberdayaan berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan.
“Mari kita rapatkan barisan. Mari kita bangun kolaborasi untuk mewujudkan keluarga Maluku yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera,” ajaknya.
Hendrik berharap Konferwil IV Muslimat NU Maluku menghasilkan kepemimpinan yang amanah dan program kerja yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan daerah.
Konferwil tersebut dihadiri Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU, Hj. Siti Aniroh Slamet Efendy, SE; Wakil Ketua NU Maluku, Dr. Abu Bakar Kabakoran, S.Ag., M.Si.; jajaran Forkopimda Maluku; pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD); pengurus Muslimat NU dari 11 cabang se-Maluku; serta tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan perempuan. (F64)
