
Jakarta, Fakta64.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat tidak membuat peran guru dan dosen kehilangan relevansi. Justru di tengah kemudahan teknologi mengakses pengetahuan, pendidik dinilai semakin dibutuhkan untuk membentuk cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang peserta didik.
Pesan itu ditegaskan Komisaris ParagonCorp, Salman Subakat, saat penutupan program Inspiring Educators 2026 yang digelar di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026), dalam rilia yang diterima media ini.
Sebanyak 6.000 pendidik, terdiri atas 5.000 guru dan 1.000 dosen, dinyatakan lulus dari Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026.
“AI bisa membantu murid mendapatkan knowledge. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang. Karena itu, saya justru percaya semakin AI berkembang, peran pendidik bukan semakin kecil, justru semakin penting,” ujar Salman.
Di hadapan sekitar 1.000 guru, dosen, dan pegiat pendidikan, Salman bahkan memperagakan kemampuan AI secara langsung. Ia meminta teknologi tersebut menyusun kurikulum selama enam bulan untuk siswa sekolah dasar di daerah terdampak bencana, lengkap dengan rencana pembelajaran, asesmen, hingga materi yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
Dalam hitungan detik, rancangan tersebut tersedia.
Demonstrasi itu sekaligus menggambarkan perubahan besar yang kini dihadapi dunia pendidikan. Teknologi mampu mengolah informasi dan menyusun materi dengan cepat, tetapi menurut Salman, kemudahan tersebut tidak serta-merta menggantikan fungsi pendidik.
Ia mengakui perkembangan teknologi dapat memunculkan kekhawatiran di kalangan guru mengenai relevansi profesinya. Terlebih, pendidik menghadapi keterbatasan fasilitas, tuntutan dari berbagai pihak, serta peserta didik yang dalam sejumlah hal mampu menguasai teknologi lebih cepat.
Namun, kondisi tersebut dinilai bukan alasan bagi pendidik untuk kehilangan kepercayaan diri.
“Jangan sampai perubahan zaman maupun berbagai tantangan membuat seorang pendidik lupa betapa penting dirinya,” ujarnya.
Satu Nilai 10 yang Diingat Selama Puluhan Tahun
Salman kemudian membagikan pengalaman yang menurutnya menggambarkan kekuatan seorang guru dalam membentuk kepercayaan diri murid.
Hampir 30 tahun lalu, guru Fisika SMA-nya, Yani Bayani, memberikan nilai 10 di rapor. Nilai tersebut menjadi pengalaman yang membekas dan mendorong Salman semakin percaya diri untuk membantu teman-temannya, mengikuti berbagai perlombaan hingga mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan, saya percaya kamu bisa,” jelas Salman.
Bagi Salman, pengalaman tersebut menunjukkan sisi pendidikan yang tidak mudah digantikan teknologi. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
31.000 Guru Mendaftar WIT 2026
Menghadapi perubahan teknologi tersebut, WIT 2026 tidak hanya berfokus pada pembelajaran berbasis proyek yang berpusat pada murid. Program ini juga membekali guru dengan kemampuan berpikir komputasional serta pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran.
WIT 2026 mencatat 31.000 pendaftar. Dari jumlah tersebut, 25.000 guru mengikuti program, 10.000 di antaranya menjalankan proyek implementasi di sekolah, dan 5.000 guru dinyatakan lulus.
Sementara di jenjang pendidikan tinggi, ILP 2026 melibatkan 5.000 dosen dengan 1.000 dosen dinyatakan lulus. Keseluruhan program berlangsung selama enam bulan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan bahwa pendidikan tidak berhenti pada proses menyampaikan pengetahuan.
Menurutnya, guru harus menjadi sosok yang mencintai murid sekaligus ilmu pengetahuan, serta mampu memberikan inspirasi dalam perjalanan belajar peserta didik.
“Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi. Menginspirasi tidak harus menggurui,” ujar Mu’ti.
Ia juga mengingatkan bahwa guru pada saat yang sama merupakan seorang pembelajar. Karena itu, proses mengajar harus berjalan bersama dengan proses belajar dan keterlibatan aktif dengan peserta didik.
“Guru adalah juga pembelajar, sehingga selama dia mengajar, dia juga harus menjadi murid di kelas itu, belajar bersama dengan murid-murid yang lainnya,” tambahnya.
Guru Dinilai Tetap Menjadi Penggerak Imajinasi
Pentingnya peran guru di tengah perkembangan teknologi juga disoroti Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014.
Dalam pandangannya mengenai pembangunan sumber daya manusia, guru memiliki posisi penting dalam menumbuhkan imajinasi, ambisi, serta membuka kemungkinan bagi generasi muda.
“Saya agak percaya dengan kurikulum sebanyak saya percaya dengan guru. Saya enggak percaya dengan teknologi sebanyak saya percaya dengan guru,” ungkap Gita.
Ia menilai guru yang memiliki kapasitas dapat menjadi penggerak bagi murid, bahkan ketika dukungan teknologi maupun perangkat kurikulum tidak berada dalam kondisi ideal.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan ParagonCorp yang menempatkan pengembangan kualitas pendidik sebagai bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia Indonesia.
Dari 30 Guru Menjadi 43.000 Pendidik
Program WIT sendiri telah berjalan sejak 2017. Saat pertama digelar di Yogyakarta, program tersebut hanya melibatkan 30 guru.
Hingga 2026, WIT telah membersamai lebih dari 36.000 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.
Program kemudian diperluas ke pendidikan tinggi melalui ILP yang dimulai pada 2021. Hingga 2026, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen.
Secara keseluruhan, WIT dan ILP telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen di 38 provinsi, serta terhubung dengan lebih dari 10.000 sekolah, universitas, dan institusi pendidikan di Indonesia.
ParagonCorp menyebut skala tersebut bukan sekadar angka. Dampak program diharapkan terus berkembang ketika para pendidik membawa pengalaman dan praktik yang diperoleh ke sekolah, kampus, serta komunitas masing-masing.
“Satu pendidik bisa mempengaruhi banyak murid. Dan satu pendidik yang menginspirasi pendidik lain bisa mempengaruhi jauh lebih banyak anak Indonesia,” tutur Salman.
Alumni Terhubung dalam 30 Komunitas
Perjalanan pendidik tidak berhenti setelah program berakhir. Alumni WIT dan ILP kini terhubung melalui 30 komunitas alumni yang menjadi ruang berbagi pengalaman, praktik baik, serta pengembangan berbagai inisiatif pendidikan.
Jejaring tersebut juga diperluas melalui ekosistem digital yang telah memiliki lebih dari 116.000 pengikut.
Bagi ParagonCorp, keberlanjutan ekosistem menjadi bagian penting agar pembelajaran yang diperoleh peserta tidak berhenti pada individu, tetapi terus bergerak melalui komunitas dan lingkungan pendidikan.
Graduation WIT dan ILP 2026 akhirnya menjadi penanda satu tahap perjalanan bagi 6.000 pendidik.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, tantangan pendidikan bukan semata bagaimana teknologi digunakan di ruang kelas, tetapi bagaimana pengetahuan yang dihasilkan teknologi dapat diarahkan menjadi kemampuan berpikir, karakter, dan keberanian untuk menghadapi masa depan.
Melalui WIT dan ILP, ParagonCorp menyatakan akan terus membuka ruang bagi pendidik untuk belajar, bertumbuh, bereksperimen, dan saling menginspirasi.
Sebab masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi juga oleh manusia yang membimbing generasi berikutnya untuk memahami, menggunakan, dan memaknai pengetahuan.
(F64)
