
Ambon, Fakta64.com – Pemandangan tak biasa tersaji di Rumah Kopi Lela, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Senin (31/8/2026) sore.
Dua figur penting dalam perjalanan politik Maluku, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) dan Gubernur Maluku periode 2019–2024 Murad Ismail (MI), terlihat duduk satu meja dalam suasana santai.
Momen itu berlangsung setelah Hendrik Lewerissa menuntaskan agenda kedinasannya. Tanpa panggung, tanpa protokoler, dan tanpa suasana seremoni, kedua tokoh tersebut tampak berbincang santai, bahkan sesekali tertawa.
Yang menarik bukan semata-mata pertemuan keduanya, tetapi pesan yang muncul dari sebuah meja kopi.
HL tampil sederhana dengan kaus putih polos. Sementara MI mengenakan kaus hitam lengkap dengan kacamata. Dua warna yang secara kasat mata berseberangan, tetapi sore itu justru bertemu dalam satu meja.
Putih dan hitam. Berbeda warna, tetapi tidak harus berhadap-hadapan.
Dalam politik, perbedaan pilihan, kepentingan dan gaya kepemimpinan kerap menjadi garis pemisah. Namun, pemandangan di Rumah Kopi Lela memperlihatkan wajah lain dari relasi politik, komunikasi tetap bisa berlangsung cair, bahkan ketika keduanya datang dari fase kepemimpinan yang berbeda.
Pertanyaannya kemudian, apakah ini sekadar pertemuan dua tokoh yang sedang menikmati kopi, atau ada pesan politik yang lebih dalam?
Belum ada pernyataan resmi yang menyebut pertemuan tersebut sebagai bagian dari agenda politik tertentu.
Karena itu, terlalu dini jika momen ini langsung ditarik sebagai tanda koalisi, kesepakatan atau manuver politik baru.
Namun, di ruang publik, simbol tetap memiliki makna.
Ketika seorang gubernur aktif dan mantan gubernur duduk berdampingan dalam suasana akrab, publik tentu memiliki ruang untuk membaca peristiwa tersebut dari berbagai perspektif.
Terlebih, pertemuan itu terjadi di tempat yang jauh dari formalitas pemerintahan. Rumah kopi menjadi ruang netral—tempat politik untuk sesaat meninggalkan jas, protokoler dan bahasa birokrasi.
Di tengah dinamika politik Maluku, suasana semacam ini setidaknya menghadirkan satu pesan sederhana: perbedaan tidak harus memutus komunikasi.
Jika politik adalah soal kepentingan, maka kepentingan terbesar Maluku semestinya tetap berada di atas kepentingan kelompok maupun figur.
Karena itu, pertemuan HL dan MI sore itu mungkin saja hanya sebuah agenda ngopi biasa.
Tetapi ketika dua figur yang pernah berada di puncak pemerintahan Maluku duduk satu meja dan tertawa bersama, publik tentu tidak akan melihatnya sebagai sekadar kopi.
Apakah akan ada kelanjutan dari pertemuan tersebut?
Waktu yang akan menjawab.
Untuk sementara, Rumah Kopi Lela telah menyajikan satu pemandangan menarik: dua warna berbeda, satu meja, dan satu pesan yang mudah ditangkap—Maluku Pung Bae membutuhkan komunikasi, bukan sekat. (F64)
