
Ambon, Fakta64.com — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku terus mendorong peningkatan kualitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu menembus kurasi pameran berskala nasional.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk memastikan produk UMKM Maluku tidak hanya memiliki keunikan dan nilai budaya, tetapi juga memenuhi standar kualitas serta daya saing yang ditetapkan pada level nasional.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama, mengatakan proses kurasi menjadi tahapan penting untuk memastikan produk UMKM yang dibawa ke tingkat nasional benar-benar memiliki kualitas dan keunggulan yang kompetitif.
“Kalau detail penilaiannya memang ditentukan oleh panitia nasional. Namun, secara umum ada beberapa hal yang menjadi perhatian, seperti jumlah produksi, story dari kain atau produknya, serta keunikan wastra yang dimiliki Maluku,” kata Rakhmat saat berkunjung di stand Tenun Ikat Mawar Mama Weli dan Santhos Jewellery Provinsi Maluku, Sabtu, (22/8/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar bagi UMKM Maluku, khususnya pelaku usaha wastra, terletak pada kemampuan memenuhi standar produksi dan memperkuat cerita yang melekat pada setiap produk.
“Mayoritas yang kita dorong memang wastra. Yang menjadi perhatian adalah kualitas, jumlah produksi dan story kainnya. Karena slot dari pimpinan juga tidak terlalu banyak, sehingga yang dikurasi harus betul-betul yang paling baik,” jelasnya.
Rakhmat menambahkan, Maluku sebenarnya memiliki kekayaan cerita yang sangat kuat. Banyak produk wastra daerah memiliki keterkaitan dengan ritual, tradisi dan kehidupan masyarakat. Namun, kekuatan tersebut harus dikemas secara lebih baik agar mampu memenuhi perspektif dan standar kurator nasional.
“Banyak story dari ritual dan lain-lain yang sangat bagus. Tetapi mungkin dari sisi penyajian dan kriteria, masih perlu kita tingkatkan agar bisa memenuhi standar dari kantor pusat,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BI Maluku tidak hanya melakukan seleksi ketika terdapat agenda pameran nasional.
Dijelaskan, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui proses kurasi UMKM yang direncanakan setiap awal tahun.
“Kita akan melakukan kurasi UMKM di Maluku setiap awal tahun. Kita juga akan mendatangkan kurator nasional, sehingga UMKM bisa mendapatkan gambaran langsung mengenai standar yang harus dipenuhi,” tuturnya.
Menurutnya, UMKM yang belum memenuhi standar nasional tidak serta-merta dihentikan dari proses pembinaan. Sebaliknya, mereka akan dikembangkan secara bertahap hingga mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
“Kalau sudah memenuhi syarat minimal, kita kembangkan lagi. Kita dorong terus sampai bisa memenuhi syarat untuk tingkat nasional,” tegasnya.
Langkah tersebut menjadi penting karena persaingan UMKM di tingkat nasional semakin ketat. Produk lokal tidak cukup hanya mengandalkan keunikan, tetapi juga harus mampu menjamin kualitas, kapasitas produksi, konsistensi dan kekuatan identitas produk.
BI Maluku berharap proses pembinaan dan kurasi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat melahirkan lebih banyak UMKM unggulan yang mampu membawa nama Maluku ke panggung nasional.
Dengan kekayaan wastra, budaya dan cerita lokal yang dimiliki, Maluku dinilai memiliki modal kuat untuk bersaing. Tantangannya kini adalah memastikan seluruh potensi tersebut dikemas menjadi produk yang memenuhi standar pasar dan kurasi nasional. (F64)
