
Ambon, Fakta64.com — Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Gelaran yang memasuki penyelenggaraan ke-11 ini dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional, Selvi Gibran Rakabuming.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Putri, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Doddy Zulverdi.
KKI 2026 juga mengangkat semangat “Beudaya MeusareSare” dari Aceh yang bermakna berdaya dan bersama-sama. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kebangkitan UMKM, termasuk pelaku usaha di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam.
Dalam pembukaannya, Destry menegaskan, bahwa penguatan UMKM tidak cukup hanya dengan mendorong pemulihan, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan ketangguhan usaha dan daya saing.
“Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” katanya dalam rilis yang diterima media ini, Sabtu, (22/8/2026).
Menurutnya, KKI 2026 menjadi ruang kolaborasi besar antara BI, 27 kementerian dan lembaga, serta 34 mitra strategis. Fokusnya tidak hanya pada pameran produk, tetapi juga memperkuat akses pembiayaan, digitalisasi, inovasi, rantai nilai, hingga perluasan pasar UMKM ke tingkat nasional dan internasional.
21 UMKM Maluku Ikut KKI 2026
Dijelaskan, di tengah panggung nasional tersebut, UMKM Maluku mendapat ruang untuk memperkenalkan kekayaan produk berbasis potensi lokal. Bank Indonesia Provinsi Maluku terus mendorong UMKM yang mengangkat identitas daerah, mulai dari tenun dan wastra, perhiasan, hingga produk makanan dan minuman berbahan komoditas lokal seperti sagu, sukun, dan rempah-rempah.
“Pada 2026, sebanyak 40 UMKM di Maluku telah mengikuti onboarding sebagai UMKM binaan Bank Indonesia. Mereka mendapatkan penguatan kapasitas usaha sekaligus fasilitasi, termasuk dalam pemenuhan sertifikasi halal.
Dari jumlah tersebut, 21 UMKM asal Maluku berpartisipasi dalam KKI 2026. Empat di antaranya hadir langsung di Jakarta, yakni Santhos Jewellery, Tenun Ikat Mawar Mama Weli, Sukun Putri Angkasa, dan Mie Sehat Cempaka,” jelasnya.
Dia menambahkan, sementara UMKM Maluku lainnya mengikuti KKI secara daring. Keikutsertaan tersebut menjadi langkah strategis untuk membawa produk lokal Maluku keluar dari pasar daerah. KKI menjadi etalase yang mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen, mitra bisnis, lembaga pembiayaan hingga calon pembeli dari pasar yang lebih luas.
Dengan demikian, produk khas Maluku tidak berhenti sebagai komoditas lokal, tetapi didorong memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar nasional maupun ekspor.
Peserta KKI Melonjak
“Skala KKI 2026 juga menunjukkan peningkatan signifikan. Selama empat hari pelaksanaan, pameran luring di JICC diikuti lebih dari 550 UMKM, sementara pameran daring melalui platform KKI melibatkan lebih dari 1.300 UMKM.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring,” tuturnya.
Dia menambahkan, KKI 2026 menghadirkan 44 rangkaian kegiatan, mulai dari talkshow ekonomi dan keuangan inklusif berkelanjutan, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan dan ekspor, penguatan value chain, showcase UMKM unggulan, hingga showcase pariwisata.
“Beragam produk hasil kurasi juga ditampilkan, seperti wastra, ready to wear, aksesori, home decor, kopi, makanan dan minuman olahan, hingga atraksi desa wisata.
Tak hanya memperluas pasar, BI juga memasukkan aspek keberlanjutan dalam penyelenggaraan KKI melalui program KKI Bijak dengan prinsip zero emission dan zero waste to landfill serta pengembangan zona hijau,” ungkapnya.
Diketahui, Melalui KKI 2026, BI ingin memastikan pengembangan UMKM tidak berhenti pada kegiatan promosi dan pameran. Tantangan berikutnya adalah memastikan pelaku usaha mampu bertahan, berkembang, mengakses pembiayaan, melakukan inovasi, dan menembus pasar yang lebih luas.
Bagi Maluku, momentum ini menjadi peluang penting untuk memperkuat posisi produk lokal di tingkat nasional. Tenun, kerajinan, pangan berbasis sagu dan sukun, hingga produk olahan rempah memiliki modal identitas yang kuat—tinggal memastikan kualitas, kemasan, kapasitas produksi, dan kontinuitas pasokan mampu mengikuti tuntutan pasar.
“KKI 2026 pun menjadi pengingat bahwa UMKM daerah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan kolaborasi dan akses pasar yang tepat, produk dari daerah kepulauan seperti Maluku juga dapat berdiri sejajar di panggung ekonomi nasional,” pungkasnya. (F64)
