
Ambon, Fakta64.com — Manajemen Bandar Udara Internasional Pattimura Ambon mulai memperkuat perhatian terhadap pemeliharaan fasilitas di lingkungan bandara. Kampanye “Budaya Rawat Fasilitas” digencarkan kepada seluruh pengguna jasa maupun pekerja sebagai upaya menjaga kebersihan, kenyamanan, serta keandalan fasilitas publik.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Manajemen bandara menyebut adanya dugaan pemborosan air, pembuangan sampah tidak pada tempatnya hingga hilangnya sejumlah fasilitas sanitasi di beberapa titik toilet, khususnya di area kargo.
Kondisi itu menjadi perhatian serius mengingat fasilitas bandara merupakan bagian penting dari pelayanan publik sekaligus mencerminkan profesionalisme pengelolaan pintu gerbang Maluku.
Manajemen Bandara Pattimura pun mengingatkan seluruh mitra kerja, terutama yang beraktivitas di kawasan kargo dan wilayah airside, agar tidak sekadar menggunakan fasilitas, tetapi turut bertanggung jawab dalam menjaganya.
Sedikitnya ada tiga hal utama yang ditekankan.
Pertama, hemat energi dan air. Setiap pengguna fasilitas diminta memastikan keran air tertutup sempurna setelah digunakan. Kebiasaan sederhana ini dinilai penting untuk mencegah pemborosan air bersih.
Kedua, menjaga inventaris. Seluruh pihak dilarang melepas, merusak maupun memindahkan fasilitas bandara, seperti keran air, tempat sampah dan aset lainnya dari lokasi semula.
Ketiga, mencegah kerusakan fasilitas dan lingkungan. Penggunaan tisu diminta dilakukan secukupnya dan dibuang ke tempat yang telah disediakan guna mencegah penyumbatan pada wastafel maupun kloset.
General Manager Bandar Udara Internasional Pattimura Ambon, Johan Seno Acton, menegaskan bahwa bandara bukan hanya tempat transit penumpang, tetapi merupakan ruang bersama yang harus dijaga oleh seluruh pihak.
“Bandara adalah rumah bersama. Dengan merawat fasilitas seperti toilet dan area publik lainnya, kita turut menjaga kenyamanan perjalanan setiap orang,” katanya dalam rilis yang diterima media ini beberapa waktu lalu.
Menurutnya, perilaku sederhana seperti mematikan keran, menjaga aset tetap berada pada tempatnya, serta membuang tisu dengan benar merupakan bagian dari budaya profesionalisme.
Ia juga mengajak seluruh pekerja dan mitra kerja membangun kesadaran kolektif agar Bandara Pattimura tidak hanya bersih bagi penumpang dan pengguna jasa, tetapi juga nyaman bagi mereka yang setiap hari bekerja di dalamnya.
“Mari jadikan bandara kita tempat yang nyaman, bersih dan berstandar internasional, bukan hanya untuk tamu dan penumpang, tetapi juga untuk kenyamanan kita yang bekerja di dalamnya setiap hari,” ujarnya.
Manajemen Bandara Pattimura menilai layanan prima tidak semata-mata ditentukan oleh sistem pelayanan, tetapi juga oleh kondisi fasilitas yang digunakan masyarakat.
Karena itu, kampanye “Budaya Rawat Fasilitas” diharapkan tidak berhenti sebagai imbauan.
Kesadaran menjaga fasilitas harus menjadi kebiasaan bersama agar Bandara Pattimura tetap menjadi pintu gerbang Maluku yang bersih, tertata dan membanggakan. (F64)
