
Ambon, Fakta64.com – Pembangunan Kota Ambon tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Penguatan pelayanan publik dan persatuan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting untuk memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Bacarita Kota Ambon for Ambon Pung Bae” yang digelar di Hotel Santika Premiere Ambon, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Selasa (11/8/2026).
Forum yang mengusung tema “Pembangunan, Pelayanan dan Persatuan di Kota Ambon” itu mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, legislatif, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai elemen masyarakat.
Komandan Satuan Pertahanan Pantai (Dansathantai) Kodaeral IX, Kolonel Laut (P) Frejhon Da Costa, hadir mewakili Komandan Kodaeral IX, Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H.
Kehadiran jajaran TNI AL dalam forum tersebut menegaskan pentingnya membangun komunikasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan sekaligus menciptakan ruang kolaborasi dalam mendukung pembangunan daerah.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Kota Ambon, dilanjutkan doa bersama, selayang pandang Kota Ambon, serta penampilan tarian nusantara.
Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena dalam sambutannya menegaskan, pembangunan, pelayanan publik, dan persatuan merupakan tiga elemen yang tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kemajuan Kota Ambon.
Menurutnya, pembangunan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan pemerintah menjadi bagian penting yang harus terus dibenahi dan diperkuat.
Di sisi lain, pembangunan juga membutuhkan kondisi sosial yang aman dan harmonis. Persatuan masyarakat menjadi modal utama agar berbagai program pembangunan dapat berjalan tanpa terganggu oleh konflik maupun perpecahan.
Wattimena mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga toleransi serta memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal yang telah menjadi identitas masyarakat Maluku.
Nilai Pela Gandong dan filosofi Orang Basudara, kata dia, harus terus dirawat dan diwariskan sebagai kekuatan sosial dalam menjaga keharmonisan masyarakat Kota Ambon.
Setelah pembukaan, forum berlanjut pada sesi dialog, diskusi, dan tanya jawab bersama narasumber dan peserta.
Ruang dialog tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan, gagasan, sekaligus aspirasi terkait berbagai persoalan pembangunan daerah dan pelayanan publik.
Forum ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat agar berbagai tantangan di Kota Ambon tidak hanya dibicarakan, tetapi dapat dicari solusi secara bersama.
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Ambon, Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Ketua DPRD Kota Ambon, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Pabandya Kasdim 1504/Ambon, pimpinan OPD Pemerintah Kota Ambon, serta tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.
Kehadiran Dansathantai Kodaeral IX juga memperlihatkan komitmen TNI AL untuk terus membangun komunikasi dan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, serta seluruh komponen masyarakat.
Sinergitas lintas sektor tersebut menjadi penting untuk memastikan Kota Ambon tetap berada dalam situasi yang aman dan kondusif.
Sebab, pembangunan tanpa keamanan akan sulit berjalan optimal, sementara keamanan tanpa persatuan juga tidak akan cukup untuk menjawab tantangan pembangunan.
Dari forum “Bacarita Kota Ambon for Ambon Pung Bae”, pesan yang mengemuka menjadi jelas, kemajuan Kota Ambon membutuhkan pemerintah yang hadir, pelayanan yang semakin baik, serta masyarakat yang tetap bersatu dalam semangat Orang Basudara. (F64)
