
MBD, Fakta64.com – Laut bukan pembatas bagi kehadiran negara. Di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan Maluku Barat Daya (MBD), TNI Angkatan Laut (TNI AL) bersama Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan bahwa pelayanan negara harus menjangkau hingga pelosok negeri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Tahun Anggaran 2026. Memasuki sasaran keempat, Tim ERB menyambangi Desa Kehli, Kecamatan Damer, Kabupaten MBD, Selasa (1/9/2026).
Dengan menggunakan KRI Posepa-870 dari Satuan Kapal Patroli (Satrol) Kodaeral IX, rombongan membawa misi yang tidak sebatas memastikan ketersediaan Rupiah layak edar. Ekspedisi ini sekaligus menghadirkan edukasi kebangsaan dan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Setibanya di Desa Kehli, personel langsung melakukan penyiapan material sebelum kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Bela Negara serta edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah).
Pesan yang dibawa cukup jelas, Rupiah bukan sekadar alat transaksi, tetapi simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di wilayah kepulauan seperti MBD, keberadaan uang Rupiah yang layak edar memiliki arti strategis. Jarak, keterbatasan transportasi, serta kondisi geografis tidak boleh membuat masyarakat di wilayah terluar kehilangan akses terhadap layanan negara maupun terputus dari simbol-simbol kedaulatan nasional.
Karena itu, ERB menjadi lebih dari sekadar agenda distribusi dan penukaran uang. Ekspedisi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kehadiran negara sekaligus membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya Rupiah dalam kehidupan ekonomi dan kebangsaan.
76 Warga Kehli Dapat Layanan Kesehatan
Kehadiran Tim ERB di Desa Kehli juga dimanfaatkan untuk menghadirkan pelayanan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Melalui Bakti Kesehatan Gratis, sebanyak 76 warga Desa Kehli mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan dari Tim Kesehatan Kodaeral IX.
Sejumlah keluhan kesehatan ditemukan dalam pemeriksaan tersebut, di antaranya dyspepsia atau gangguan lambung, mialgia (pegal linu), hipertensi, dermatitis, osteoarthritis, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Layanan kesehatan tersebut menjadi penting mengingat akses masyarakat di wilayah kepulauan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan tidak selalu mudah. Kehadiran tenaga kesehatan melalui rangkaian ERB setidaknya membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pemeriksaan secara langsung.
Kegiatan ini melibatkan 15 personel Tim ERB Bank Indonesia Provinsi Maluku dan tiga personel kesehatan Kodaeral IX.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan warga yang datang memanfaatkan layanan kesehatan sekaligus mengikuti rangkaian edukasi kebangsaan dan CBP Rupiah.
Kehadiran Negara di Wilayah 3T Rangkaian kegiatan di Desa Kehli turut dihadiri Komandan KRI Posepa-870 Mayor Laut (P) Muhammad Fachri, Camat Damer, Kepala Desa Kehli, Kapolsek Damer, Tim Kesehatan Kodaeral IX, Tim ERB Bank Indonesia Provinsi Maluku, serta masyarakat setempat.
Bagi wilayah seperti Pulau Damer, kedatangan KRI Posepa-870 bukan sekadar bagian dari perjalanan operasi. Kehadiran kapal perang TNI AL tersebut menjadi simbol bahwa wilayah kepulauan dan masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan tetap berada dalam jangkauan negara.
Kehadiran TNI AL pun tidak berhenti pada fungsi pertahanan dan keamanan laut. Melalui sinergi dengan BI, penugasan tersebut diperluas menjadi misi kemanusiaan dan pelayanan masyarakat.
Di titik inilah ERB 2026 menemukan makna yang lebih luas. Kedaulatan tidak hanya dijaga dengan kapal dan personel bersenjata, tetapi juga melalui pelayanan, akses ekonomi, kesehatan, dan penguatan rasa kebangsaan.
Sinergi Kodaeral IX dan Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat kedaulatan Rupiah sekaligus memperluas manfaat pelayanan negara bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Setelah menuntaskan seluruh rangkaian kegiatan di Desa Kehli, KRI Posepa-870 melanjutkan pelayaran menuju Pulau Banda untuk menjalankan misi ERB 2026 pada sasaran berikutnya.
Ekspedisi pun terus bergerak. Dari satu pulau ke pulau lainnya, membawa satu pesan utama: negara hadir, Rupiah berdaulat, dan masyarakat di wilayah terluar tidak boleh berjalan sendiri. (F64)
