
Ambon, Fakta64.com — Digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia terus melaju dan mulai menjadi bagian penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Namun, di balik pesatnya adopsi pembayaran digital, persoalan literasi masyarakat masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Bank Indonesia (BI) terus mendorong perluasan akseptasi sekaligus pemahaman masyarakat terhadap pembayaran digital melalui berbagai program edukasi dan kampanye, salah satunya QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2026.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Bayu Martanto, menjelaskan bahwa hingga akhir Semester I 2026, volume transaksi QRIS secara nasional telah mencapai 344 juta transaksi dengan jumlah pengguna sekitar 3,7 juta.
“Sementara itu, jumlah merchant yang telah menerima pembayaran melalui QRIS mencapai 3,3 juta penjual,” katanya dalam memberikan kata sambutan dalam membuka QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) Maluku 2026, tahap kedua di salah satu hotel berbintang, Senin, (24/8/2026).
Menurutnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan pembayaran digital, mulai dari sektor perdagangan, jasa, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Maluku, tren serupa juga terlihat. Volume transaksi QRIS sepanjang Semester I 2026 tercatat mencapai 7,9 juta transaksi. Angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital di wilayah kepulauan.
Namun, peningkatan transaksi belum otomatis menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat sudah memadai.
“Data literasi keuangan Indonesia pada 2024 tercatat berada di angka 57, masih di bawah Malaysia yang mencapai 61 dan Thailand sebesar 71. Lebih spesifik, literasi keuangan digital Indonesia juga masih relatif rendah dengan skor 41 poin, dibandingkan rata-rata negara OECD yang mencapai 51 poin,” ujarnya.
Dijelaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital. Masyarakat tidak hanya perlu didorong untuk menggunakan pembayaran digital, tetapi juga harus memahami keamanan, manfaat, risiko, serta cara menggunakan layanan keuangan digital secara bijak.
QJI Maluku 2026 Dorong Digitalisasi UMKM dan Pariwisata
Upaya tersebut diwujudkan Bank Indonesia melalui QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) Maluku 2026 yang sukses digelar pada 13–17 Juli 2026.
Mengusung tema “Jelajahi Kuliner Nusantara, Bayar Praktis dengan QRIS”, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan kampanye pembayaran digital, tetapi juga menghubungkan QRIS dengan potensi kuliner, UMKM, budaya, dan pariwisata Maluku.
QJI Maluku 2026 berlangsung di Negeri Rutong, Kota Ambon, serta Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Pemilihan dua destinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi daerah sekaligus mendorong pelaku UMKM dan sektor pariwisata untuk semakin adaptif terhadap ekosistem pembayaran digital.
“Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas penggunaan QRIS di kalangan pelaku usaha, khususnya UMKM yang bergerak di sektor kuliner dan pariwisata. Digitalisasi pembayaran dinilai dapat memberikan kemudahan transaksi sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau konsumen yang semakin terbiasa dengan pembayaran non-tunai,” jelasnya.
Diketahui, selain itu, QJI Maluku 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan kuliner, budaya, serta destinasi wisata Maluku kepada masyarakat yang lebih luas.
Kompetisi Berlanjut ke Tingkat Sulampua
Program QRIS Jelajah Indonesia 2026 dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat provinsi, tingkat wilayah, hingga nasional.
“Untuk wilayah Sulampua, penyelenggaraan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia mencakup Maluku dan Sulawesi Selatan. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat literasi sekaligus akseptasi masyarakat terhadap pembayaran digital,” tuturnya.
Dia menambahkan, peserta juga didorong berkompetisi secara sportif, membangun sinergi, serta memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di kawasan Sulampua.
BI berharap pemerintah daerah, perbankan, pelaku UMKM, sektor pariwisata, komunitas, dan masyarakat dapat mengambil peran bersama dalam membangun ekosistem pembayaran digital yang semakin inklusif.
“Sebab, tantangan digitalisasi hari ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat mau menggunakan QRIS, tetapi memastikan masyarakat paham, aman, dan cakap dalam menggunakannya,” ungkapnya.
Dia menambahkan, dengan begitu, QRIS tidak hanya menjadi alat pembayaran, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat UMKM, menggerakkan sektor pariwisata, serta memperluas peluang ekonomi masyarakat di daerah. (F64)
