
Jakarta, Fakta64.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) membawa misi penting ke China. Bukan sekadar kunjungan jurnalistik, delegasi media arus utama Indonesia diajak melihat langsung bagaimana industri pers Negeri Tirai Bambu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah gempuran teknologi digital.
Delegasi PWI mengunjungi tiga kota besar China, yakni Guangzhou, Shanghai, dan Chengdu, pada 1–7 Agustus 2026 lalu. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan serta membuka ruang kerja sama antara media arus utama Indonesia dan China.
Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Nurcholis MA Basyari, yang mewakili Ketua Umum PWI Akhmad Munir, memimpin delegasi tersebut. Turut serta Kepala Biro Beijing LKBN Antara Desca Lidya Natalia, Wakil Pemimpin Redaksi Republika Stevy Maradona, Wakil Redaktur Pelaksana Kompas Antonius Tomy Trinugroho, serta mantan anggota Dewan Pers sekaligus wartawan senior Asep Setiawan.
Kunjungan atas undangan Nanfang International Friendship Association itu tidak hanya membahas kerja sama media. Delegasi juga melihat perkembangan industri berbasis teknologi tinggi, khususnya sektor otomotif, energi baru-terbarukan, dan kesehatan.
Kehadiran delegasi Indonesia mendapat sambutan hangat sejak tiba di Bandara Internasional Guangzhou Baiyun pada 1 Agustus hingga bertolak dari Bandara Internasional Chengdu Tianfu pada 7 Agustus.
Kepala Kantor Urusan Asia Tenggara Perhimpunan Persahabatan Internasional Tiongkok Selatan, Jonathan Fu, bahkan menyampaikan sambutan khusus kepada rombongan.
“Selamat datang di Tiongkok. Anda adalah tamu agung kami,” ujar Fu dalam berbagai kesempatan.
Fu bersama timnya, termasuk wartawan senior Zhang Wenxi, mendampingi delegasi selama perjalanan di China.
Media China Tak Mau Mati Dimakan Zaman
Di balik kemajuan teknologi China, ada satu fakta menarik yang menjadi perhatian delegasi Indonesia, industri media di negeri tersebut juga menghadapi persoalan yang sama dengan media di berbagai negara, yakni perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Media cetak tidak lagi bisa hanya mengandalkan koran. Pembaca berpindah ke platform digital, media sosial, video pendek, hingga siaran langsung.
Namun, media arus utama China memilih tidak menyerah.
Mereka melakukan konvergensi media secara agresif dengan menggabungkan kekuatan jurnalistik konvensional, teknologi digital, media sosial, produksi konten, hingga pengembangan industri kreatif.
Gambaran tersebut terlihat ketika delegasi PWI berdialog dengan jajaran manajemen dan redaksi Yangcheng Evening News Group di Guangzhou, Xinmin Evening News di Shanghai, serta Chengdu Media Group.
Wakil Sekretaris Komite Partai sekaligus Wakil Presiden dan Wakil Pemimpin Redaksi Yangcheng Evening News Press Group, Hu Quan, mengatakan inovasi menjadi kunci untuk menghadapi perubahan industri media.
“Kami harus berinovasi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri media,” katanya.
Yangcheng Evening News tetap mempertahankan tradisi jurnalistik dengan menerbitkan koran harian sore. Namun, pada saat yang sama, media tersebut memperluas distribusi melalui website dan berbagai platform aplikasi yang populer di kalangan masyarakat.
Media yang terbit sejak 1 Oktober 1957 itu bahkan telah mengembangkan konsep integrasi antara media dan industri.
Selain mengelola bisnis media, Yangcheng Evening News Group memiliki Taman Budaya dan tengah membangun Gedung Kreatif Digital Lingnan.
Jumlah sumber daya manusia yang mereka miliki juga menunjukkan skala transformasi tersebut. Lebih dari 2.200 wartawan dan kreator konten bekerja dalam ekosistem Yangcheng Evening News, dengan sekitar 400 orang di antaranya berstatus editor.
Basis audiensnya mencakup kawasan Greater Bay Area Guangdong, Hong Kong, dan Makau.
Direktur Departemen Komite Editorial dan Komunikasi Eksternal Yangcheng Evening News, Eva Jiang, menjelaskan salah satu strategi ekspansi digital mereka dilakukan melalui platform PEARL.
Platform tersebut diklaim memiliki jangkauan lebih dari 210 juta orang. Sementara akun media sosial internasionalnya memiliki lebih dari 7 juta pengikut, dengan Facebook, X, dan YouTube menjadi sejumlah kanal utama.
Yangcheng Evening News juga membangun kemitraan dengan jaringan media asing yang diklaim menjangkau lebih dari 18,74 juta audiens internasional.
Xinmin Evening News, Wartawan Senior Turun ke TikTok
Strategi serupa diterapkan Xinmin Evening News yang berada di bawah Shanghai United Media Group.
Media yang berdiri sejak 9 September 1929 itu tidak ingin sejarah panjang menjadi alasan untuk tertinggal di era digital.
Wakil Pemimpin Redaksi Xinmin Evening News, Du Min, mengatakan, karakter pemberitaan mereka tetap bertumpu pada kisah masyarakat dan kehidupan sehari-hari.
Namun, pola distribusinya berubah.
“Kami juga melakukan transformasi bisnis media berbasis internet dengan memanfaatkan berbagai platform aplikasi populer di China dan mancanegara,” ujarnya.
Transformasi tersebut mendorong perubahan struktur organisasi redaksi. Selain departemen berita cetak, Xinmin Evening News memiliki departemen berita internasional, media baru, dan naskah luar negeri.
Salah satu kanal yang menjadi andalan adalah siaran langsung melalui TikTok versi lokal China.
Direktur Departemen Redaksi Media Baru Xinmin Evening News, Li Ranran, mengatakan produksi live streaming mencapai sekitar 100 menit setiap hari dengan jumlah penonton yang diklaim menembus lebih dari 70 juta.
Menariknya, host program tersebut bukan sekadar influencer.
Wartawan senior dengan pengalaman siaran selama dua dekade justru ditempatkan sebagai wajah program.
Program yang mulai bergulir pada Agustus 2023 itu menyasar generasi muda, khususnya kelompok usia 35–40 tahun, dengan mengangkat kisah warga asing yang tinggal, bekerja, dan menjalankan usaha di Shanghai.
Strategi ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan berarti meninggalkan prinsip jurnalistik. Justru, pengalaman jurnalistik dibawa ke platform baru dengan kemasan yang lebih sesuai dengan kebiasaan audiens.
Chengdu Bidik Dunia Lewat Tujuh Bahasa
Chengdu Media Group mengambil jalur yang lebih global.
Selain menerbitkan majalah bilingual Hello Chengdu, media tersebut aktif memproduksi konten untuk memperkenalkan Chengdu kepada dunia.
Direktur Media Operation Center Chengdu International Communications Co., Ltd., Amy Feng, mengatakan, konten yang mereka produksi tidak hanya berbicara tentang berita, tetapi juga budaya, masyarakat, bisnis, dan pariwisata.
“Melalui konten-konten berkualitas, kami ingin mengabarkan kepada dunia mengenai Chengdu,” ujarnya.
Di bawah brand GoChengdu, mereka mengandalkan tim wartawan muda yang mayoritas perempuan untuk memproduksi konten teks, grafis, hingga audio-visual.
Distribusi dilakukan melalui berbagai platform, mulai dari WeChat, Weibo, Douyin, Bilibili, Facebook, X, hingga Instagram.
Konten bahkan diproduksi dalam tujuh bahasa untuk menjangkau audiens internasional.
Pengguna platform mereka diklaim telah mencapai lebih dari 3 juta, sementara seluruh akun media sosial Chengdu Media Group memiliki sekitar 1,2 juta pengikut per Desember 2022.
Yang lebih menarik, strategi komunikasi mereka tidak lagi sekadar menyebarkan informasi.
Konsepnya bergeser dari “diseminasi” menjadi “komunikasi”.
Mereka membangun jejaring dengan 36 kota kembar, 45 kedutaan besar dan konsulat, 55 diplomat kunci, serta 47 organisasi internasional.
Tujuannya jelas: membangun jejaring komunikasi global sekaligus memperluas pengaruh Chengdu melalui media.
Peluang Kerja Sama Media Indonesia-China
Dari Guangzhou hingga Chengdu, satu pesan terlihat jelas: media yang ingin bertahan tidak cukup hanya menghasilkan berita. Mereka harus memahami teknologi, perilaku audiens, distribusi konten, dan membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Kunjungan PWI membuka peluang bagi media Indonesia untuk belajar dari pengalaman tersebut sekaligus membangun jaringan kerja sama dengan media China.
Dalam setiap pertemuan, jajaran media China menyatakan keterbukaan untuk menjalin kolaborasi dengan media Indonesia, termasuk pertukaran konten.
“Kami terbuka untuk menjalin kerja sama, misalnya, dalam pertukaran konten,” ujar para pimpinan media China secara senada.
Bagi media Indonesia, tawaran tersebut bukan sekadar peluang pertukaran berita.
Di tengah persaingan platform digital, dominasi media sosial, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan drastis pola konsumsi informasi, pengalaman China menunjukkan bahwa media arus utama masih memiliki ruang untuk berkembang—sepanjang mampu beradaptasi tanpa kehilangan fondasi jurnalistik.
Kunjungan PWI ke tiga kota besar China pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan jurnalistik.
Ini adalah momentum untuk membaca arah masa depan industri media: ketika teknologi berubah cepat, media yang bertahan bukan yang paling besar, tetapi yang paling mampu beradaptasi. (F64)
