
Ambon, Fakta64.com — Pendidikan Maluku mulai dibawa ke ruang global. Dua dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Pattimura (Unpatti), Prof. Dr. Marleny Leasa, M.Pd. dan Dr. Nessy Pattimukay, M.Pd., ambil bagian dalam program Himpunan Dosen PGSD Indonesia (HDPGSDI) Goes to Thailand 2026 yang berlangsung di Bangkok, 3–6 Agustus 2026.
Keterlibatan tersebut bukan sekadar agenda kunjungan akademik. Di Thailand, kedua dosen PGSD Unpatti ikut melakukan benchmarking terhadap praktik pendidikan, memperluas jejaring akademik, bertukar pengetahuan, sekaligus membuka ruang kerja sama pendidikan lintas negara.
Program yang mempertemukan 27 dosen PGSD dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia itu menjadi momentum untuk melihat secara langsung praktik pendidikan di Thailand sekaligus mencari pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pendidikan dasar di Indonesia, khususnya Maluku.
Prof. Dr. Marleny Leasa mengatakan, keterlibatan PGSD FKIP Unpatti dalam kegiatan tersebut memiliki arti strategis di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat.
“Tantangan pendidikan dasar saat ini tidak lagi hanya berkutat pada pembelajaran konvensional. Pendidik dituntut mampu merespons perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau AI, perubahan sosial, isu lingkungan, hingga kebutuhan pembelajaran yang semakin berpusat pada peserta didik,” kata Marleny saat dikonfirmasi lewat telepon seluler, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Quality Education, melalui penguatan kapasitas pendidik, pertukaran pengetahuan, inovasi pembelajaran, serta pengembangan kemitraan pendidikan lintas negara.
Belajar dari Thailand, Membawa Pulang Praktik Baik
Rangkaian kegiatan berlangsung di Kasetsart University, Kamphaeng Saen Campus, dan Kasetsart University Laboratory School. Delegasi tidak hanya mengikuti agenda seremonial. Observasi, diskusi akademik, pertukaran pengalaman, serta pengenalan praktik pembelajaran menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana sistem pendidikan dikembangkan di Thailand.
Bagi dosen PGSD Unpatti, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk mengidentifikasi praktik baik yang relevan dan berpotensi diadaptasi dengan kebutuhan pendidikan dasar di Indonesia. Namun, adaptasi tidak berarti menyalin mentah-mentah sistem pendidikan negara lain.
Marleny menegaskan, setiap wilayah memiliki karakteristik peserta didik, guru, budaya, serta kondisi pendidikan yang berbeda.
“Benchmarking internasional bukan sekadar melihat apa yang dilakukan negara lain, tetapi mencari cara mengolah pengalaman tersebut menjadi gagasan yang relevan bagi pendidikan di daerah,” ujarnya.
AI Masuk Ruang Diskusi Pendidikan Perhatian delegasi juga tertuju pada perkembangan kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan.
Hal itu mengemuka dalam seminar “AI for Learner Development” yang disampaikan Dr. Theerasak Soykeeree dari Faculty of Education and Development Sciences Kasetsart University bersama para dosen yang tergabung dalam HDPGSDI.
Perkembangan AI yang begitu cepat membuat dunia pendidikan menghadapi tantangan baru. Guru dan dosen dituntut tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu memastikan pemanfaatannya tetap relevan, etis, bertanggung jawab, dan mendukung perkembangan peserta didik.
Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi kesempatan bagi dosen PGSD Unpatti untuk memperluas perspektif mengenai penggunaan AI dalam pembelajaran.
Teknologi, kata Marleny, tidak semestinya menggantikan peran guru. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen yang dapat memperkuat proses pembelajaran dan membuka ruang pengembangan potensi peserta didik.
Dari Pertemuan Akademik ke Kerja Sama Strategis
Langkah konkret penguatan jejaring akademik terlihat saat delegasi HDPGSDI berkunjung ke Kasetsart University.
Rombongan disambut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Internasional, Asst. Prof. Dr. Tassanee Jantiya, bersama sejumlah dosen dari Faculty of Education and Development Sciences. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Implementation Agreement (IA) sebagai bentuk komitmen memperkuat kerja sama akademik lintas negara.
Kerja sama tersebut membuka peluang untuk pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas dosen, penelitian kolaboratif, mobilitas akademik, hingga pengembangan inovasi pembelajaran.
Bagi Unpatti, khususnya PGSD FKIP, jejaring tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kolaborasi pendidikan berbasis riset, teknologi, dan pengalaman internasional. Dengan demikian, keterlibatan dosen PGSD Unpatti tidak berhenti pada keikutsertaan dalam sebuah program. Hubungan kelembagaan yang telah dibangun berpotensi dikembangkan menjadi kerja sama akademik dan riset yang berkelanjutan.
Sasi Maluku Diperkenalkan di Kelas Thailand
Dari ruang pertemuan akademik, delegasi kemudian masuk langsung ke ruang kelas. Dalam kegiatan community service di Kasetsart University Laboratory School, delegasi HDPGSDI melakukan observasi sekaligus guest teaching di tiga kelas.
Prof. Dr. Marleny Leasa, M.Pd. mengajar siswa kelas 3, dengan materi “Save the Ecosystem with SASI”, sementara Dr. Nessy Pattimukay, M.Pd. membawakan materi “Maluku Culture”.
Pembelajaran berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta didik secara aktif.
Yang menarik, kearifan lokal sasi Maluku diperkenalkan kepada peserta didik Thailand sebagai bagian dari pembelajaran tentang ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
Sasi tidak hanya diperkenalkan sebagai identitas budaya Maluku, tetapi ditempatkan dalam konteks yang lebih luas sebagai salah satu bentuk kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.
Dari sini, budaya lokal bertemu dengan isu global.
Sasi menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kepada peserta didik bahwa upaya menjaga lingkungan dapat lahir dari pengetahuan dan tradisi masyarakat lokal yang memiliki nilai universal. Sementara materi “Maluku Culture” membuka ruang bagi peserta didik Thailand untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Maluku.
Budaya Maluku pun tidak berhenti sebagai objek promosi, tetapi masuk ke dalam proses pembelajaran dan dialog lintas budaya.
Bukan Sekadar Pergi ke Luar Negeri Keterlibatan dua dosen PGSD Unpatti dalam HDPGSDI Goes to Thailand 2026 pada akhirnya membawa pesan lebih besar daripada sekadar perjalanan akademik ke luar negeri.
Ada tiga modal yang dibawa pulang, pengalaman praktik pendidikan internasional, jejaring akademik lintas negara, dan kesempatan memperkenalkan pengetahuan serta budaya Maluku ke ruang global.
Kini, tantangannya adalah memastikan pengalaman tersebut tidak berhenti ketika rombongan kembali ke Ambon. Praktik baik yang diperoleh dari Thailand perlu diterjemahkan ke dalam pembelajaran di PGSD, pengembangan kapasitas calon guru, penelitian kolaboratif, serta inovasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dasar di Maluku.
Sebab, keberhasilan sebuah kerja sama internasional pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak institusi yang dikunjungi atau dokumen yang ditandatangani, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan dan jejaring tersebut menghasilkan perubahan nyata. PGSD FKIP Unpatti kini memiliki kesempatan untuk membawa hasil pembelajaran dari Thailand ke ruang-ruang pendidikan di Maluku.
Dari Thailand, bukan hanya pengalaman yang dibawa pulang. Ada jejaring, inovasi, teknologi, serta perspektif baru yang diharapkan menjadi energi untuk mendorong pendidikan dasar Maluku semakin berkualitas, adaptif, berakar pada budaya lokal, dan berwawasan global.
Selain itu, Di balik capaian akademik tersebut, Prof. Dr. Marleny Leasa, M.Pd. berharap Universitas Pattimura memberikan perhatian dan dukungan yang lebih serius kepada dosen-dosen yang aktif membawa nama institusi ke level internasional.
Menurut Marleny, dukungan tersebut penting karena kiprah dosen dalam forum akademik internasional sejalan dengan visi dan misi Universitas Pattimura untuk mendorong kampus menuju reputasi dan jejaring yang semakin global.
Ia menilai, upaya membawa nama Unpatti ke panggung internasional tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan institusi. Dukungan terhadap dosen yang menjalankan misi akademik, membangun jejaring, mengikuti konferensi, melakukan kolaborasi riset, maupun membuka kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Kalau kita bicara Unpatti go international, tentu dosen-dosen yang bergerak membawa nama universitas ke luar negeri juga membutuhkan perhatian dan dukungan. Ini bukan hanya kepentingan pribadi, tetapi bagian dari upaya membawa nama baik dan meningkatkan reputasi universitas,” imbuhnya.
Sebab, ketika dosen berhasil tampil di forum internasional, membangun kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, memperkenalkan budaya Maluku, hingga membuka peluang penelitian kolaboratif, manfaatnya pada akhirnya tidak hanya kembali kepada dosen yang bersangkutan, tetapi juga kepada institusi.
“Harapan saya ke depan ada perhatian lebih kepada dosen-dosen yang melakukan kegiatan seperti ini. Kami membawa nama Unpatti, bukan membawa nama pribadi saja. Kalau memang targetnya Unpatti go international, tentu harus ada dukungan yang sejalan dengan visi tersebut,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, Fakta64.com masih berupaya meminta tanggapan pihak Rektorat Universitas Pattimura terkait dukungan terhadap dosen yang mengikuti kegiatan akademik internasional tersebut. (F64)
