Jembatan swadaya warga Wakal akhirnya menghubungkan kembali jalur Taeno–Wakal yang sempat terputus.Sabtu.(31/01/26) Faktanya Media Ini.
Ambon,Fakta64.com–Di saat akses vital terputus dan bantuan pemerintah tak kunjung datang, warga Desa Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, memilih tidak menunggu.
Dengan modal gotong royong dan donasi swadaya, mereka membangun sendiri jembatan penghubung Taeno–Wakal yang sempat ambruk sejak pertengahan 2025.
Jembatan darurat sepanjang kurang lebih 20 meter itu kini berdiri di sisi jembatan lama yang runtuh akibat hujan deras pada Juni 2025. Meski terbuat dari material sederhana seperti kayu besi dan batang kelapa, jalur tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua hingga roda empat. Pantauan di lokasi, Sabtu (31/01/2026),
keberadaan jembatan ini kembali menghidupkan akses utama masyarakat dari jazirah menuju pusat Kota Ambon—jalur yang sebelumnya sempat terisolasi berbulan-bulan. Yang menjadi sorotan, pembangunan tersebut murni hasil swadaya warga, tanpa campur tangan pemerintah.
Dana dikumpulkan melalui donasi online dan gotong royong masyarakat. Proses pengerjaan memakan waktu sekitar tiga bulan, dari Juni hingga Agustus 2025.
“Katong bikin ini supaya jarak lebih dekat dari jazirah ke kota. Ini demi kepentingan umum. Dana semua dari swadaya masyarakat, seng ada bantuan pemerintah,” ujar Samal,salah satu warga Wakal.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terkait lambannya respons pemerintah terhadap infrastruktur dasar yang menyangkut keselamatan dan aktivitas ekonomi warga.
Pasalnya, jembatan tersebut merupakan urat nadi transportasi masyarakat, baik untuk keperluan sekolah, bekerja, maupun distribusi hasil kebun dan perikanan. Tanpa jembatan, warga sebelumnya harus memutar jauh atau menempuh jalur berisiko. Meski kini akses kembali terbuka, warga mengakui jembatan darurat ini belum sepenuhnya aman.
Struktur kayu dinilai hanya solusi sementara, terlebih kawasan tersebut minim penerangan karena tidak adanya lampu jalan, sehingga rawan kecelakaan saat malam hari. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan membangun jembatan permanen yang lebih kokoh dan representatif.
Kisah Wakal menjadi potret ironi sekaligus ketangguhan. Di satu sisi, solidaritas warga membuktikan kuatnya semangat gotong royong. Namun di sisi lain, absennya peran negara dalam penyediaan infrastruktur dasar memunculkan kritik tajam. Saat pemerintah belum hadir, rakyat terpaksa berdiri sendiri.(F64.COM)
